KEMAMPUAN DAN INTELEGENSI

PENDAHULUAN

Intelegensi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap insan. Intelegensi ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, keberhasilan, dan kesuksesan. Namun tingkat intelegensi yang dimiliki setiap orang pastilah berbeda. Ini dikarenakan bahwa intelegensi seseorang memang tergantung pada faktor-faktor yang membentuk intelegensi itu sendiri.

Namun perlu ditekankan bahwa intelegensi itu bukanlah IQ di mana kita sering salah tafsirkan. Sebenarnya intelegensi itu menurut “Claparde dan Stern” adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru. Berbagai macam tes telah dilakukan oleh para ahli untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Oleh karena itu banyak hal atau faktor yang harus kita perhatikan supaya intelegensi yang kita miliki bisa meningkat.

Jika intelegensi bukanlah IQ, lalu apakah intelegensi, ciri-ciri apa yang menandai bahwa perbuatan kita adalah perbuatan intelegensi, apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan bagaimana pengaruhnya pada kehidupan seseorang ? permasalahan ini akan penulis bahas secara lugas pada bab berikutnya.

A. Pengertian Intelegensi

Intelegensi berasal dari bahasa Inggris Intelligence. Intelligence sendiri adalah terjemahan dari bahasa Latin intellectus dan intelligentiae. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol tahun 1951 Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut “Nous†sedangkan penggunaan kekuatan disebut “Noesisâ€.

Intelegensi atau kecerdasan diartikan dalam berbagai dimensi oleh para ahli. Donald Stener, seorang Psikolog menyebut intelegensi sebagai suatu kemampuan untuk menerapkan pegetahuan yang sudah ada untuk memecahkan berbagai masalah. Tingkat intelegensi dapat diukur dengan kecepatan memecahkan masalah-masalah tersebut. Intelegensi secara umum dapat juga diartikan sebagai suatu tingkat kemampuan dan kecepatan otak mengolah suatu bentuk tugas atau keterampilan tertentu. Sedangkan menurut Claparde dan Stern intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru.

Para ahli psikologi memiliki pendapat yang berbeda tentang denisi psikologi, berikut adalah pengertian intelegensi yang di uraikan oleh beberapa tokoh :

  1. Andrew Crider Tahun 1983, mengatakan bahwa intelegensi itu bagaikan listrik, mudah untuk diukur tapi hampir mustahil untuk didefinisikan.
  2. Alfred Binet, tokoh utama perintis pengukuran intelegensi mendefinisikan intelegensi terdiri atas tiga komponen, yaitu :
    1. Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan;
    2. Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan;
    3. Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan auto criticism;
    4. George D. Stoddard 1941, menyebut intelegensi sebagai bentuk kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan :
    5. David Wechsler 1958, pencipta skala-skala intelegensi Wechsler yang popular mendefinisikan intelegensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara nasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif.
    6. Walters dan Gardnes 1986, mendefinisikan intelegensi sebagai serangkaian kemampuan-kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu.
    7. Flynn 1987, mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman.
  1. Mengandung kesukaran;
  2. Kompleks;
  3. Abstrak;
  4. Diarahkan pada suatu tujuan;
  5. Ekonomis;
  6. Mempunyai nilai sosial.

Bebarapa uraian ringkas mengenai teori intelegensi beserta tokohnya masing-masing :

  1. Alfred Binet, Mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetic yaitu berkembang dari suatu faktor satuan. Menurutnya intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.
  2. Edward Lee Thorndike, Teori Thorndike menyatakan bahwa intelegensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik yang ditampilkan dalam wujud perilaku intelegensi.
  3. Robert j. Sternberg, Teori ini lebih menekankan pada kesatuan dari berbagai aspek intelegensi sehingga teorinya lebih berorientasi pada proses. Teori yang dikemukakan Sternberg dikenal dengan Teori Intelegensi Triarchic. Teori ini berusaha menjelaskan secara terpadu hubungan antara :
  1. Intelegensi dan Dunia Internal seseorang;
  2. Intelegensi dan Dunia Eksternal seseorang;
  3. Intelegensi dan Pengalaman.

Meskipun terdapat berbagai pendapat para ahli dalam mendefinisikan intelegensi, namun pada dasarnya sama, yaitu intelegensi merupakan kekuatan yang dapat melengkapi akal pikiran manusia dengan gagasan abstrak yang universal untuk dijadikan sumber tunggal pengetahuan sejati.

B. Ciri-ciri Perbuatan Intelegensi

Suatu perbuatan dapat dianggap intelegen bila memenuhi beberapa syarat, antara lain:

  1. Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan.
  2. Perbuatan intelegen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis.
  3. Masalah yang dihadapi harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.
  4. Keterangan pemecahan masalahnya harus dapat diterima oleh masyarakat.
  5. Perbuatan intelegen bercirikan kecepatan, cepat tanggap dan tangkas.
  6. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang dihadapi.

Contoh perbuatan yang menyangkut intelejensi: jika seseorang mengamati taman bunga, ini adalah persepsi. Tetapi kalau ia mengamati bunga-bunga yang sejenis atau mulai menghitung, menganalisa, membandingkan dari berbagai macam bunga yang ada dalam taman tersebut, maka perbuatannya sudah merupakan perbuatan yang berintelegensi.


C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi

Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda. Hal ini seperti yang disebutkan diatas ada pandangan yang menekankan pada bawaan (pandangan kualitatif) dan ada yang menekankan pada proses belajar (pandangan kuantitatif) sehingga dengan adanya perbedaan pandangan tersebut dapat diketahui bahwa intelegensi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebgai berikut :

1. Pengaruh Faktor Bawaan

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi ( + 0,50 ), orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang diadopsi korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 – + 0,20 ).

2. Pengaruh Faktor Lingkungan

Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka).

3. Stabilitas Intelegensi Dan IQ

Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas inyelegensi tergantung perkembangan organik otak.

4. Pengaruh Faktor Kematangan

Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya.

5. Pengaruh Faktor Pembentukan

Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.

6. Minat Dan Pembawaan yang Khas

Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.

7. Kebebasan

Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.

Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.

D. Hubungan Intelegensi dengan Kehidupan Seseorang

Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa intelegensi ialah kemampuan umum mental individu yang nampak dalam caranya bertindak atau berbuat dalam memecahkan masalah atau dalam melaksanakan tugas yang taraf kualitas kemampuannya diukur dengan kecepatan, ketepatan dan keberhasilan dalam pelaksanaannya.

Dalam kenyataan sebenarnya sulit untuk menentukan korelasi antara intelegensi seseorang dengan kehidupannya. Memang kecerdasan atau intelegensi seseorang memainkan peran yang penting dalam kehidupannya. Akan tetapi kehidupan adalah sangat kompleks. Intelegensi bukan satu-satunya faktor yang menentukan sukses tidaknya kehidupan seseorang, banyak lagi faktor yang lain.

Faktor kesehatan dan ada tidaknya kesempatan tidak dapat kita abaikan. Orang yang sakit-sakitan saja meskipun intelegensinya tinggi dapat gagal dalam berusaha mengembangkan dirinya dalam kehidupannya. Demikian pula meskipun cerdas tapi tak ada kesempatan mengembangkan dirinya dapat gagal pula. Juga watak (pribadi) seseorang sangat berpengaruh dan turut menentukan. Banyak orang-orang yang sebenarnya memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak mendapat kemajuan dalam kehidupannya. Ini disebabkan karena misalnya kekuranganmampuan bergaul dengan orang-orang lain dalam masyarakat, atau kurang memiliki cita-cita yang tinggi sehingga tidak atau kurang adanya untuk mencapainya.

Sebaliknya adapula yang sebenarnya memiliki intelegensi yang sedang saja, tetapi dapat maju dan mendapat kehidupan lebih layak berkat ketekunan dan keuletannya dan todak banyak faktor-faktor yang mengganggu atau merintanginya. Akan tetapi intelegensi yang rendah menghambat pula usaha seseorang untuk maju dan bekembang, meskipun orng gigih dan tekun dalam usahanya.

Sebagai kesimpulan dapat kita katakan kecerdasan atau intelegensi seseorang memberi kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya. Sampai dimana kemungkinan tadi dapat direalisasikan, tergantung pula kepada kehendak dan pribadi serta kesempatan yang ada.

Jelaslah sekarang bahwa tidak terdapat korelasi yang tetap antara tingkatan intelegensi dengan tingkat kehidupan seseorang. Dari hasil-hasil  penyelidikan ahli antropologi dan psikologi juga masih disangsikan adanya korelasi yang tetap.


DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, M.Ngalim. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2004.

Sabri, M. Alisuf. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 1996.

Suyanto, Agus. Psikologi Umum. Jakarta : Bumi Aksara. 2004

Wahab, Muhbib Abdul, Abdul Rahman Saleh. Psikologi Suatu Pengantar Prespektif Islam. Jakarta : Prenada Media. 2004.

About these ads

11 thoughts on “KEMAMPUAN DAN INTELEGENSI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s