Program Pengembangan dan Pengawasan BK

BAB I

PENDAHULUAN

            Bimbingan dan Konseling di sekolah adalah sebuah layanan yang diberikan oleh pihak sekolah terkait kepada siswanya guna membantu siswa untuk menuju sebuah kedewasaan, kemandirian, dan berkembang secara optimal yang meliputi perkembangan pribadi, sosial, pendidikan dan perkembangan karir. Hal ini tentu dilakukan dengan berbagai jenis layanan dan kegiatan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

            Pengertian lain menyatakan bahwa, Bimbingan dan Konseling merupakan layanan yang diberikan kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalam pribadi, sosial, belajar dan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan yang sesuai dengan norma yang berlaku. Pengertian tersebut ingin menjelaskan bahwa arah jegiatan layanan Bimbingan dan Konseling adalah untuk membantu peserta didik untuk dapat melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan mampu berkembang secara optimal.

            Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk memandirikan peserta didik dan mengembangkan potensi mereka secara optimal. Tujuan dijabarkan dan mengarah kepada keefektifan hidup sehari-hari dengan senantiasa memperhatikan potensi peserta didik. Yang kemudian secara lebih khusus tujuan tersebut dirumuskan kedalam bentuk kompetensi.

            Oleh karena itu, kegiatan bimbingan dan konseling perlu dikembangkan dengan adanya program-program yang dilaksanakan dalam bimbingan dan konseling di sekolah itu sendiri. Sekaligus, dilakukan pengawasan-pengawasan kegiatannya, agar kegiatan bimbingan konseling di sekolah dapat terus berjalan dan semakin berkembang.         

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling

Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang terencana berdasarkan pengukuran kebutuhan (need asessment) yang diwujudkan dalam bentuk program bimbingan dan konseling. Program bimbingan dan konseling di sekolah dapat disusun secara makro untuk tiga tahun, meso satu tahun dan mikro sebagai kegiatan operasional dan memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan khusus. Program menjadi landasan yang jelas untuk mengukur layanan profesional yang diberikan oleh konselor di sekolah.

            Struktur program bimbingan diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu :

  1. layanan dasar bimbingan
  2. layanan responsif
  3. layanan perencanaan individual
  4. layanan dukungan sistem.

a.  Layanan Dasar Bimbingan

Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai “proses pemberian bantuan kepada semua siswa melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal”.

Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar :

  1. memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama),
  2. mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya,
  3. mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan
  4. mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

 

Untuk mencapai tujuan tersebut, kepada siswa disajikan materi layanan yang menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu siswa dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Materi layanan dasar bimbingan dapat diambil dari berbagai sumber, seperti majalah, buku, dan koran. Materi yang diberikan, disamping masalah yang menyangkut pengembangan sosial-pribadi, dan belajar, juga materi yang dipandang utama bagi siswa SLTP/SLTA, yaitu yang menyangkut karir. Materi-materi tersebut, di antaranya :

  1. fungsi agama bagi kehidupan,
  2. pemantapan pilihan program studi,
  3. keterampilan kerja profesional,
  4. kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan,
  5. perkembangan dunia kerja,
  6. iklim kehidupan dunia kerja,
  7. cara melamar pekerjaan,
  8. kasus-kasus kriminalitas,
  9. bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan
  10. dampak pergaulan bebas.

 

Materi lainnya yang dapat diberikan kepada para siswa adalah sebagai berikut:

ü      Pengembangan self-esteem.

ü      Pengembangan motif berprestasi.

ü      Keterampilan pengambilan keputusan.

ü      Keterampilan pemecahan masalah.

ü      Keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi.

ü      Memahami keragaman lintas budaya.

ü      Perilaku yang bertanggung jawab.

b.  Layanan Responsif

Layanan responsif merupakan “pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera”.

Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.

Materi layanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan siswa. Masalah dan kebutuhan siswa berkaitan dengan keinginan untuk memahami tentang suatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya yang positif. Kebutuhan ini seperti kenginan untuk memperoleh informasi tentang bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas dan sebagainya.

Masalah siswa lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dialami atau dirasakan mengganggu kenyamanan hidupnya atau menghambat perkembangan dirinya yang positif, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Masalah siswa pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.

Masalah (gejala masalah) yang mungkin dialami siswa di antaranya :

  1. merasa cemas tentang masa depan,
  2. merasa rendah hati,
  3. berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkannya secara matang),
  4. membolos dari sekolah,
  5. malas belajar,
  6. kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif,
  7. kurang bisa bergaul,
  8. prestasi belajar rendah,
  9. malas beribadah,
  10. masalah pergaulan bebas (free sex),
  11. masalah tawuran,
  12. manajemen stress,
  13. dan masalah dalam keluarga.

 

Untuk memahami kebutuhan dan masalah siswa dapat ditempuh dengan cara menganalisis data siswa, baik yang bersumber dari inventori tugas-tugas perkembangan (ITP), angket siswa, wawancara, observasi, sosiometri, daftar hadir siswa, leger, psikotes dan daftar masalah siswa atau alat ungkap masalah (AUM).

c.  Layanan Perencanaan Individual

Layanan ini diartikan “proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya”.

Layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa agar :

  1. memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya,
  2. mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir,
  3. dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.

 

Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi atau materi perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan siswa untuk memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh siswa, layanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing siswa. Melalui layanan perencanaan individual, siswa dapat:

  1. Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan masyarakatnya.
  2. Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.
  3. Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
  4. Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.

 

Materi layanan perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek akademik, karir, dan sosial-pribadi. Materi pengembangan aspek (a) akademik meliputi : memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat; (b) karir meliputi : mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan (c) sosial-pribadi meliputi : pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif.

Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan profesinal; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).

Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu :

  1. pemberian layanan,
  2. dan kegiatan manajemen.

 

1) Pemberian Layanan Konsultasi/Kolaborasi

            Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor) yang meliputi:

  1. konsultasi dengan guru-guru,
  2. menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat,
  3. berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah,
  4. bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa,
  5. melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.

 

2) Kegiatan Manajemen

            Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan berikut:

  1. pengembangan program,
  2. pengembangan staf,
  3. pemanfaatan sumber daya, dan
  4. pengembangan penataan kebijakan.

 

            Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut :

  1. Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan atas landasan konseptual, hukum maupun empirik
  2. Visi da misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang mendukung visi , misi dan tujuan sekolah

 

            Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan isntitusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

            Keempat komponen dasar di atas dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. layanan dasar, program yang secara umum dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas;
  2. layanan responsif, program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang memerlukan layanan bantuan khusus;
  3. layanan perencanaan individual, program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri dan merancang masa depan; dan
  4. dukungan sistem, kebijakan yang mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah maupun eksternal

 

            Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar terkembang jejaring layanan yang optimal.

B. Mekanisme Pengawasan Program Bimbingan dan Konseling Disekolah

 

            Terkait dengan peran pengawas sekolah, pengawas dapat melakukan pembinaan dan pengawasan “apakah sekolah memiliki program bimbingan dan konseling?”. Pimpinan sekolah dan personil bimbingan (guru pembimbing/konselor) harus didorong untuk menyusun program bimbingan. Jika program sudah ada personil bimbingan dan pimpinan sekolah didorong untuk melakukan kajian apakah program sudah memfasilitasi kebutuhan peserta didik dan mendukung ketercapaian visi, misi dan tujuan sekolah. Pengawas juga mendorong pimpinan sekolah dan konselor untuk menyampaikan program pada rapat dinas sekolah sehingga semua pendidik di lingkungan sekolah mengetahui, memahami dan dapat mengembangkan jejaring dalam peran fungsinya masing-masing.

            Pengawasan program Bimbingan dan Konseling di sekolah dilakukan dengan mekanisme-mekanisme tertentu, yakni sebagai berikut:

  1. persiapan,
  2. pengiriman bahan,
  3. kegiatan pengawasan di sekolah,
  4. evaluasi dan tindak lanjut
  5. pengawasan berkesinambungan dan berkelanjutan

 

a. Pesiapan

 

      Kegiatan pengawasan pada tahap ini dilakukan oleh pengawas sekolah itu sendiri bersama dengan para personel sekolah. Kegiatan yang dilakukan adalah:

  1. Pengawas Sekolah

ü      Pengawas sekolah mempersiapkan kegiatan pengawasan tahunan dan satu semesteran yang disusunnya untuk setiap sekolah yang menjadi tanggung jawab pengawasannya.

ü      Persiapan pengawasan ini difokuskan kepada hasil kegiatan bimbingan, kemampuan guru, sumberdaya pendidikan, dan proses bimbingan.

  1. Personel Sekolah
    1. Guru

ü      Menyiapkan laporan tentang kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Menyapaikan laporan tersebut kepada kepala sekolah dan membahasnya (antara kepala sekolah dan guru pembimbing).

ü      Penyusunan dan penyampaian laporan tersebut dikoordinasikan oleh koordinator Bimbingan dan Konseling di tiap-tiap tingkatn sekolah sekolah (SD, SMP, atau SMA).

ü      Laporan tersebut dapat dipergunakan untuk laporan kepada pengawas sekolah.

  1. Kepala Sekolah

ü      Meminta guru-guru untuk menyusun laporan tentang kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Menyiapkan guru pembimbing untuk memperoleh pengawasan dari pengawas sekolah.

ü      Meminta guru-guru yang lain untuk bersedia membantu memberikan informasi tentang peranannya dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Kunjungan pengawas sekolah kesekolah menjadi tanggung jawabnya dan hendaknya dapat disampaikan kepada guru-guru yang lainnya.

b. Pengiriman Bahan-bahan Pengawasan

 

      Bahan-bahan yang menyangkut kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah beserta hasil-hasilnya merupakan materi utama dan pertama yang perlu mendapat perhatian pengawas sekolah. Untuk itu perlu dicatat hal-hal berikut:

ü      Pengawas sekolah dapat meminta kepala sekolah yang diawasinya untuk mengirimkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pengawasan sekolah.

ü      Hasil pengawasan dapat dikirimkan kepada kepala sekolah yang bersangkutan.

ü      Bahan-bahan pengawasan dipergunakan dalam kunjungan pengawas sekolah kesekolah-sekolah yang berkelanjutan.

c. Kegiatan Pengawas Sekolah di Sekolah

 

      Kunjungan pengawas sekolah merupakan kegiatan rutin yang harus dilakukan sesuai dengan program yang telah disusun. Dalam hal ini, kegiatan yang dapat dilakukan oleh seorang pengawas sekolah adalah :

ü      Menerimam laporan, baik secara tertulis maupun lisan dari guru pembimbing atau guru kelas tentang berbagai hal yang bersangkutan dengan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Mengamati secara langsung:

  1. Ruangan, perlengkapan ruangan, dan perlengkapan bimbingan dan konseling.
  2. Proses perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
  3. Lingkungan dan kondisi sekolah yang mempengaruhi proses pendidikan pada umumnya serta bimbingan dan konseling pada khususnya.

 

d. Evaluasi dan Tindak Lanjut

 

      Hasil kegiatan yang telah dilakukan oleh pengawas selanjutnya dievaluasi, dianalisis, dan diberikan upaya tindak lanjut. Dalam hal ini pengawas sekolah mengevaluasi seluruh bahan yang diperoleh dari kepala sekolah yang menjadi tanggung jawabnya, baik bahan-bahan yang dikirim, maupun dari hasil pengawasan di sekolah. Hasil evaluasi tersebut kemudian di analisis dan diberi tindak lanjut yang dikirimkan kepada pihak-pihak terkait di sekolah terutama guru pembimbing, koordinator bimbingan dan konseling di sekolah, guru kelas, dan kepala sekolah.

e. Pengawasan Berkesinambungan dan Berkelanjutan

 

      kegiatan pengawasan bukan hanya sesuatu kegiatan yang hanya dilakukan sekali saja, namun merupakan kegiatan yang perlu dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Dalam hal ini, materi, hasil, dan tindak lanjut pengawasan serta saran-saran yang terdahulu menjadi bahan pertimbangan dalam kegiatan pengawasan berikutnya, dalam rangka pengawasan berkesinambungan dari waktu ke waktu.

      Secara umum mekanisme pengawasan bimbingan dan konseling di sekolah dapat di gambarkan sebagai berikut:

Pengawasan Berkesinambungan dan berkelanjutan
Evaluasi dan tahap lanjut
  • Pengawas sekolah
  • Personel sekolah
Persiapan
  • Guru Permbimbing/ guru kelas
  • Kepala Sekolah
  • Dari sekolah ke pengawas sekolah
  • Dari pengawas sekolah ke sekolah
 
Pengiriman Bahan
  • Sepengetahuan kepala sekolah
  • Kesempatan yang luas bagi pengawas sekolah
  • Berbagai kegiatan dilakukan oleh pengawas sekolah
  • Arahan, bimbingan, contoh, dan saran
  • Pertemuan kolegial
Kegiatan pengawasan di sekolah
  • Kelengkapan bahan
  • Evaluasi seluruh bahan dan keadaan yang menjadi objek pengawasan
  • Analisis hasil evaluasi
  • Tindak lanjut
  • Persepsi yang sama
  • Hasil pengawasan dan tindak lanjutnya, disampaikan kepada guru dan kepala sekolah
  • Pengawasan dari waktu ke waktu
  • Penilaian, pembinaan, dan pengembangan berkelanjutan
 

 


BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP 

 

A. Kesimpulan

            Program pengembangan bimbingan dan konseling di sekolah diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu : layanan dasar, bimbingan layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan sistem. Keempat layanan tersebut diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa disekolah yang bersangkutan. Yang disusun oleh oleh para personil bimbingan dan konseling di sekolah dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah.

            Dari semua kegiatan tersebut, kemudian diadakannya sebua pengawasan yang dilakukan dengan mekanisme-mekanisme tertentu, agar segala kegiatan yang berkenaan dengan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah dapat terus berjalan dan berkembang lebih baik.

B. PENUTUP

 

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga  penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Guna memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Bimbingan dan Konseling, Pendidikan Bahasa Inggris semester 4 tahun 2010.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi penulis dan juga pembaca. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan kreativitas penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Dalam penyusunan makalah ini tentu terdapat  kesalahan, kekurangan serta kejanggalan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna menyempurnakan kekurangan dalam makalah ini di masa mendatang.

  Metro, 2 Juni 2010

Penulis,

MISBAKHUDIN

 

DAFTAR PUSTAKA

Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Petunjuk Teknis Pengelolaan Bimbingan dan Konseling.

Prof. Dr. H. Prayitno, M.Sc. Ed. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Syahril., dan Riska Ahmad. 1987. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Padang. Penerbit Angkasa Raya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s