PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT KH. HASYIM ASY’ARI DAN KH. AHMAD DAHLAN

A. Pemikiran Pendidikan Islam Menurut KH. Hasyim Asy’ari

 

            Untuk menuangkan pemikirannya tentang pendidikan islam, KH. Hasyim Asy’ari telah merangkum sebuah kitab karangannya yang berjudul “Muta’allim Fima Yahtaj Ilah Al-Muta’alim Fi Ahual Muta’allum Wa Yataqaff Al-Mu’allim Fi Maqamat Ta’limah. Dalam kitab tersebut beliau merangkum pemikirannya tentang pendidikan Islam kedalam delapan poin, yaitu :

  1. Keutamaan ilmu dan keutamaan belajar mengajar
  2. Etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar
  3. Etika seorang murid kepada guru
  4. Etika seorang murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomi berasama guru
  5. Etika yang harus dipedomi seorang guru
  6. Etika guru ketika dan akan mengajar
  7. Etika guru terhadap murid-murid nya
  8. Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitannya dengannya.[1]

 

            Dari delapan pokok pemikiran di atas, Hasyim Asy’ari membaginya kembali kedalam tiga kelompok, yaitu :

  1. Signifikansi Pendidikan
  2. Tugas dan tanggung jawab seorang murid
  3. Tugas dan tanggung jawab seorang guru.[2]

Pada dasarnya, ketiga kelompok pemikiran tersebut adalah hasil integralisasi dari delapan pokok pendidikan yang dituangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari.

A.1. Sigifikansi Pendidikan

            Dalam membahas masalah ini, KH.Hasyim Asy’ari mengorientasikan pendapatnya berdasarkan alwur’an dan Al-Hadits. Sebagai contohnya ialah beliau mengambil pemikiran pendidikan tentang keutamaan menuntut ilmu dan keutamaan bagi yang menuntut ilmu dari surat Al-Mujadilah ayat 11 yang kemudian beliau uraikan secara singkat dan jelas. Misalnya beliau menyebutkan bahwa keutamaan yang paling utama dalam menuntut ilmu adalah mengamalkan apa yang telah dituntut. Secara langsung beliau akan menjelaskan maksud dari perkataan itu, yaitu agar seseorang tidak melupakan ilmu yang telah dimilikinya dan bermanfaat bagi kehidupannya di akherat kelak.

            KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa dalam menuntut ilmu harus memperhatikan dua hal pokok selain dari keimanan dan tauhid. Dua hal pokok tersebut adalah :

  1. bagi seorang peserta didik hendaknya ia memiliki niat yang suci untuk menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal yang bersifat duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekannya
  2.  bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu tidak semata-mata hanya mengharapkan materi, disamping itu hendaknya apa yang diajarkan sesuai dengan apa yang diperbuat.[3]

 

            Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa belajar bukanlah semata-mata hanya untuk menghilangkan kebodohan, namun untuk mencari ridho Allah yang mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat. Kareba itu hendaknya belajar diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai islam bukan hanya semata-mata menjadi alat penyebrangan untuk mendapatkan meteri yang berlimpah.

A.2. Tugas dan Tanggung Jawab Murid

            Murid sebagai peserta didik memiliki tugas dan tanggung jawab berupa etika dalam menuntut ilmu, yaitu :

  1. Etika  yang harus diperhatikan dalam belajar

Dalam hal ini Hasyim Asy’ari mengungkapkan ada sepuluh etika yang harus dipebuhi oleh peserta didik atau murid, yaitu :

  1. membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian
  2. membersihkan niat
  3. tidak menunda-nunda kesempatan belajar
  4. bersabar dan qonaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan
  5. pandai mengatur waktu
  6. menyederhanakan makan dan minum
  7. bersikap hati-hati atau wara’
  8. menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan kemalasan yang pada akhirnya menimbulkan kebodohan
  9. menyediakan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan

10.  meninggalkan kurang faedah (hal-hal yang kurang berguna bagi perkembangan diri).[4] Dalam hal ini tidak dibenarkan ketika seorang yang menuntut ilmu hanya menekankan pada hal-hal yang bersifat rohaniah atau duniawiah saja, karena keduanya adalah penting.

  1. Etika Seorang Murid Terhadap Guru

Etika seorang murid murid kepada guru, sesuai yang dikatakan oleh Hasyim Asy’ari hendaknya harus memperhatikan sepuluh etika utama, yaitu :

  1. hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang dijelaskan atau dikatakan oleh guru
  2. memilih guru yang wara’ artinya orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak disamping profesionalisme
  3. mengikuti jejak guru yang baik
  4. bersabar terhadap kekerasan guru
  5. berkunjung kepada guru pada tempatnya atau mintalah izin terlebih dahulu kalau harus memaksa keadaan pada bukan tempatnya
  6. duduklah yang rapi dan sopan ketika berhadapan dengan guru
  7. berbicaralah dengan sopan dan lemah lembut
  8. dengarkan segala fatwanya
  9. jangan sekali-kali menyela ketika sedang menjelaskan
  10. dan gunakan anggota kanan bila menyerahkan sesuatu kepadanya.[5]

 

  1. Etika Murid Terhadap Pelajaran

Dalam menuntut ilmu murid hendaknya memperhatikan etika berikut :

  1. memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain untuk dipelajari
  2. harus mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung ilmu-ilmu fardhu ‘ain
  3. berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
  4. mendiskusikan atau menyetorkan apa yang telah ia pelajari pada orang yang dipercayainya
  5. senantiasa menganalisa, menyimak dan meneliti ilmu
  6. pancangkan cita-cita yang tinggi
  7. bergaulah dengan orang berilmu lebih tinggi (intelektual)
  8. ucapkan bila sampai ditempat majlis ta’lim (tempat belajar, sekolah, pesantren, dan lain-lain)
  9. bila terdapat hal-hal yang belum diketahui hendaknya ditanyakan
  10. bila kebetulan bersamaan banyak teman, jangan mendahului antrian bila tidak mendapatkan izin
  11. kemanapun kita pergi kemanapun kita berada jangan lupa bawa catatan
  12. pelajari pelajaran yang telah diajarkan dengan continue (istiqomah)
  13. tanamkan rasa semangat dalam belajar.[6]

 

A.3. Tugas dan Tanggung Jawab Guru

            Dalam dunia pendidikan tidak hanya seorang murid yang memiliki tanggung jawab. Namun seorang guru juga memiliki tanggung jawab yang hampir serupa dengan murid, yaitu :

  1. Etika Seorang Guru

Seorang guru dalam menyampaikan ilmu pada peserta didik harus memiliki etika sebagai berikut :

  1. selalu mendekatkan diri kepada Allah
  2. senantiasa takut kepada Allah
  3. senantiasa bersikap tenang
  4. senantiasa berhati-hati
  5. senantiasa tawadhu’ dan khusu’
  6. mengadukan segala persoalannya kepada Allah SWT
  7. tidak menggunakan ilmunya untuk keduniawian saja
  8. tidak selalu memanjakan anak didik
  9. berlaku zuhud dalam kehidupan dunia
  10. menghindari berusaha dalam hal-hal yang rendah
  11. menghindari tempat-tempat yang kotor atau maksiat
  12. mengamalkan sunnah nabi
  13. mengistiqomahkan membaca al-qur’an
  14. bersikap ramah, ceria, dan suka menebarkan salam
  15.  membersihkan diri dari perbuatan yang tidak disukai Allah
  16. menumbuhkan semangat untuk mengembangkan dan menambah ilmu pengetahuan
  17. tidak menyalahgunakan ilmu dengan menyombongkannya
  18. dan membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas.[7]

 

Dalam pembahasan ini ada satu hal yang sangat menarik, yaitu tentang poin yang terakhir guru harus rajin menulis, mengarang dan meringkas. Hal ini masih sangat jarang dijumpai, ini juga merupakan menjadi salah satu faktor mengapa masih sangat sulit dijumpai karya-karya ilmiah. Padahal dengan adanya guru yang selalu menulis, mengarang dan merangkum, ilmu yang dia miliki akan terabadikan.

  1. Etika Guru dalam mengajar

Seorang guru ketika mengajar dan hendak mengajar hendaknya memperhatikan etika-etika berikut :

  1. mensucikan diri dari hadats dan kotoran
  2. berpakaian yang sopan dan rapi serta berusaha berbau wewangian
  3. berniat beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu
  4. menyampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah (walaupun hanya sedikit)
  5. membiasakan membaca untuk menambah ilmu pengetahuan
  6. memberikan salam ketika masuk kedalam kelas
  7. sebelum belajar berdo’alah untuk para ahli ilmu yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita
  8. berpenampilan yang kalem dan menghindarkan hal-hal yang tidak pantas dipandang mata
  9. menghindarkan diri dari gurauan dan banyak tertawa
  10. jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, makan, marah, mengantuk, dan lain sebagainya
  11. hendaknya mengambil tempat duduk yang strategis
  12. usahakan berpenampilan ramah, tegas, lugas dan tidak sombong
  13. dalam mengajar hendaknya mendahulukan materi yang penting dan disesuaikan dengan profesionalisme yang dimiliki
  14. jangan mengajarkan hal-hal yang bersifat subhat yang dapat menyesatkan
  15. perhatikan msing-masing kemampuan murid dalam meperhatikan dan jangan mengajar terlalu lama
  16. menciptakan ketengan dalam belajar
  17. menegur dengan lemah lembut dan baik ketika terdapat murid yang bandel
  18. bersikap terbuka dengan berbagai persoalan yang ditemukan
  19. berilah kesempatan pada murid yang datang terlambat dan ulangilah penjelasannya agar mudah dipahami apa yang dimaksud
  20. dan apabila sudah selesai berilah kesempatan kepada anak didik untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.[8]

 

Dari pemikiran yang ditawarkan oleh hasyim asy’ari tersebut, terlihatlah bahwa pemikirannya tentang etika guru dalam mengajar ini sesuai dengan apa yang beliau dan kita alami selama ini. Hal ini mengindikasikan bahwa apa yang beliau fikirkan adalah bersifat fragmatis atau berdasarkan pengalaman. Sehingga hal inilah yang memberikan nilai tambah begi pemikirannya.

  1. Etika Guru Bersama Murid

Guru dan murid pada dasarnya memiliki tanggung jawab yang berbeda, namun terkadang seorang guru dan murid mempunyai tanggung jawab yang sama, diantara etika tersebut adalah :

  1. berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at islam
  2. menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniawian
  3. hendaknya selalu melakukan instropeksi diri
  4. menggunakan metode yang sudah dipahami murid
  5. membangkitkan semangat murid dengan memotivasinya, begitu murid yang satu dengan yang lain
  6. memberikan latihan – latihan yang bersifat membantu
  7. selalu memperhatikan kemapuan peserta didik yang lain
  8. bersikap terbuka dan lapang dada
  9. membantu memecahkan masalah dan kesulitan peserta didik
  10. tunjukkan sikap yang arif dan tawadhu’ kepada peserta didik yang satu dengan yang lain.

Bila sebelumnya seorang murid dengan guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, maka setelah kita telaah kembali, ternyata seorang guru dan murid juga memiliki tugas yang serupa seperti tersebut di atas. Ini mengindikasikan bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari tidak hanya tertuju pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh peserta didik dan guru, namun juga keasamaan yang dimiliki dan yang harus dijalani. Hal ini pulalah yang memberikan indikasi nilai utama yang lebih pada hasil pemikirannya.

B. Pemikiran Pendidikan Islam Menurut KH. Ahmad Dahlan

            Selain berdagang pada hari-hari tertentu, Ahmad Dahlan memberikan pengajian agama kepada beberapa kelompok orang, terutama pada kelompok murid Pendidikan Guru Pribumi di Yogyakarta. Dia juga pernah mencoba mendirikan sebuah madrasah dcngan pengantar bahasa Arab di lingkungan Keraton, namun gagal.

            Selanjutnya, pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.

             Sumbangan terbesarnya K.H. Ahmad Dahlan, yaitu pada tanggal 18 November 1912 M. mendirikan organisasi sosial keagamaan bersama temannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, haji Tamim, Haji Hisyam, Haji syarkawi, dan Haji Abdul Gani.

            Tujuan Muhammadiyah terutama untuk mendalami agama Islam di kalangan anggotanya sendiri dan menyebarkan agama Islam di luar anggota inti. Untuk mencapai tujuan ini, organisasi itu bermaksud mendirikan lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh yang membicarakan masalah-masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjid-masjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat kabar dan majalah.

            Sebagai jawaban terhadap kondisi pendidikan umat Islam yang tidak bisa merespon tantangan zaman, K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan sistem pendidikan gubernemen. Ini mengadopsi pendidikan model Barat, karena sistemnya dipandang “yang terbaik” dan disempurnakan dengan penambahan mata pelajaran agama. Dengan kata lain, ia berusaha untuk mengislamkan berbagai segi kehidupan yang tidak Islami. Umat Islam tidak diarahkan kepada pemahaman “agama mistis” melainkan menghadapi duni secara realitis.

            Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan surat ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. izin itu hanya berlaku untuk daerah Yokyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sbabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srakandan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah di luar Yokyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yokyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan jama’ah-jama’ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf Bima kanu wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi. Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang- bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:

  1. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
  2. Muhammadiyah dalam melaksanakan dan memperjuangkan keyakinan dan cita-cita organisasinya berasaskan Islam. Menurut Muhammadiyah, bahwa dengan Islam bisa dijamin kebahagiaan yang hakiki hidup di dunia dan akhirat, material dan spiritual.

 

            Untuk mewujudkan keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah yang berdasarkan Islam, yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah dilakukan menurut cara yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Dakwah Islam dilakukan dengan hikmah, kebijaksanaan, nasehat, ajakan, dan jika perlu dilakukan dengan berdialog.

            Usaha-usaha yang dirintis dan dilaksanakan menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu berusaha memperbarui dan meningkatkan pemahaman Islam secara rasional sehingga Islam lebih mudah diterima dan dihayati oleh segenap lapisan masyarakat.

            Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, lengkaplah ketika pada tahun 1917 M. membentuk bagian khusus wanita yaitu ‘Aisyah. Bagian ini menyelenggarakan tabligh khusus wanita, memberika kursus kewanitaan. Pemeliharaan fakir miskin, serta memberi bantuan kepada orang sakit. Kegiatan Muhammadiyah dengan ‘Aisyah ini berjalan baik, terutama karena banyak orang Islam baik menjadi anggota maupun simpatisan memberikan zakatnya kepada organisasi ini.

            Di samping ‘Aisyiah, kegiatan lain dalam bentuk kelembagaan yang berada di bawah organisasi Muhammadiyah ialah :

  1. PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) yang bergerak dalam usaha membantu orang-orang miskin, yatim piatu, korban bencana alam dan mendirikan klinik-klinik kesehatan
  2. Hizb AI-Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah yang dibentuk pada tahun 1917 M. oleh K.H. Ahmad Dahlan
  3. Majlis Tarjih, yang bertugas mengeluarkan fatwa terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat.

 

            Cita-cita K.H. Ahmad Dahlan sebagai ulama cukup tegas, ia ingin memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan cita-cita Islam. Usaha-usahanya lebih ditujukan untuk hidup beragama. Keyakinannya bahwa untuk membangun masyarakat bangsa haruslah terlebih dahulu di bangun semangat bangsa.

            Dengan keuletan yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan, dengan gerakannya yang tidak pernah luput dari amal, kelenturan dan kebijaksaan dalam membawa misinya, telah mampu menempatkan posisi “aman”, baik pada zaman penjajahan maupun pada masa kemerdekaan. Jejak langkah K.H. Ahmad Dahlan senantiasa menitik- beratkan pada pemberantasan dan melawan kebodohan serta keterbelakangan yang senantiasa berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

            Arus dinamika pembahruan terus mengalir dan bergerak menuju kepada berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Dengan demikian, peranan pendidikan Islam menjadi semakin penting dan strategis untuk senantiasa mendapat perhatian yang serius. Hal ini disebabkan, karean pendidikan merupakan media yang sangat strategis untuk mencerdaskan umat. Melalui media ini, umat akan semakin kritis dan memiliki daya analisa yang tajam dan membaca peta kehidupan masa depannya yang dinamis. Dalam konteks ini, setidaknya pemikiran pendidikan Ahmad Dahlan dapat diletakkan sebagai upaya sekaligus wacana untuk memberikan inspirasi bagi pembentukan dan pembinaan peradaban umat masa depan yang lebih proporsional.

            Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per-kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya.

            Gerakan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya terhadap taqlid semakin jelas. Akan tetapi ia tidak menyalurkan ide-idenya secara tertulis.

            pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.


[1] DR.H. Samsul Rizal, M.A.. Filsafat Pendidikan Islam.Ciputat Pers. Jakarta. 2002.Halaman 155

[2] Ibid. Halaman 156

[3] Cop.cit. Halaman 157

[4] Cop.Cit. Halaman 157

[5] Cop.Cit.Halaman 158

[6] Ibid. Halaman 159

[7] Cop.Cit. Halaman 161

[8] Cop.Cit. Halaman 167 – 168

About these ads

21 thoughts on “PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT KH. HASYIM ASY’ARI DAN KH. AHMAD DAHLAN

  1. assalamuallaikum…
    terkaid dengan tulisan mengenai ini… saya berasumsi.. kenapa dan mengapa… get tau cermaan dari idologi yang di bawa pada daratan idologi dalam perspektif teologi sanagat lah menjolok.pada kenyataannnya kedua tokoh ini berguru pada orang yang sama…?
    mungkinini sebagai latar belakang dari seterusnya…? amin..salam kenal.. priyo.lampung..?

  2. Wa alaikum salam, salam kenal juga saya misbakh juga dari lampung.

    Sesungguhnya saya rada bingung dengan kmentarnya tapi, memang mungkin anda berasumsi dengan berbagai pertimbangan kenapa keduanya berasumsi demikian. Sejauh yang saya ketahui keduanya memiliki kemiripan dalam pemikiran hanya saja perbedaannya adalah Hasyim Asy’ari cenderung pada pendidikan klasik dan Ahmad Dahlan cenderung lebih modern.

  3. ass…..slam knal ya….aq laila mhasiswi STAI IBNU SINA BATAM…..aq mu mtk izin mu copy mkalah na…tuk bhan pbandingan…..trims byk atas berbagi ilmu na….:-)

  4. Assalamu’alaikum…wr…wb.
    salam ukhuwah islamiyah…!
    Mengapa abah yai ahmad dahlan kok tidak punya buah ilmu/hasil keilmuan yg berbentuk,seperti kitab keagamaan…atau dalam bentuk kitab2 fak keilmuan yg lain. Atau mgkn ada buah karya tsb,tp tak terindikasi adanya!
    Mohon referensinya…,terima kasih.
    Assalamu’alaikum wr…wb!

  5. waalaikm salam wr wb. Saya rasa ada hasil keilmuan yang berbentuk yand dihasilkan oleh beliau.. kita tau bahwa yai ahmad dahalan adalah pendiri NU.. bisa dikatakan bahwa apa yang terdapat dalam tubuh NU adalah hasil keilmuan… namun bila yang ditanyakan adalah seperti sebuah kitab yang dikarang oleh para imam. Saya rasa jika itu dilakukan bisa-bisa NU tidak lagi mengikuti imam madzab yang 4tapi bermadzab hasyim asy’ari. Hemat saya… itu lah mengapa belia tidak membuahkan keilmuan berupa kitab seperti hasil karangan madzab yang 4.

    1. koreksi: pendiri NU bukanlah KH. Ahmad Dahlan seperti yg anda sebutkan. Pendiri NU adalah KH. Hasyim As’ari dan beliau banyak melahirkan karya2 yg berupa kitab klasik. Hasil pemikiran yg ada dalam tulisan ini adalah hasil kutipan dari kitab karangan beliau. meski ulama-ulama NU banyak mengarang kitab, namun NU tidak pernah keluar dari kooridor 4 madzhab. karena kitab-kitab yang dihasilkan tetap merujuk pada ajaran ahlussunnah wal jama’ah.

      KH. Ahmad Dahlan adalah pendiri Muammadiyah. adapun kenapa beliau tidak melahirkan karya yang berbentuk kitab, menurut hemat saya adalah karena pemikiran beliau langsung diaplikasikan dalam aksi kongkrit. seperti mendirikan sekolah dengan kurikulum integral yang banyak kita jumpai sekarang ini.

  6. asalamu alikum…konsep hasyim asyari ini,,,sangat menarik,,,bils di kaji saya ,,,angkat topi,,,abang…
    oya..ada terjemaahan kitab adau ta’lim walmutalim ????

    1. pemikiran tentang konsep pendidikannya yang paling terkenal yaitu terdpat dalam kitab karangan beliau adabul alim wal muta’allim..jumlah karangan mbah hasyim aada puluhan lebih,..coba anda buka website pon-pes tebuireng jombang,…kitab-kitab karangan beliau di bukukan dalan satu jilid besar oleh cucu beliau KH Ishomuddin Hadziq dengan judul irsyadusy syari ilw akhirihi…..

  7. Assalam…wr.wb
    pemikiran pendidikan islam perspektif KH.asy’ari dan KH. Ahmad dahlan dari berbagai karangannya,,tolong di sebutin dan sekiranya buku karangan beliau mudah di dapatkan…ya buat refrensi untuk generasi penerus..khususnya para mahasiswa-i…dimanapun ia berada.

  8. ass……
    slm knal ajj
    mas kok angga ada yaaaa
    buku pendidikan tentang KH asy’ari
    aku butuh pendidikanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s