PERANAN BK DALAM MENGEMBANGKAN DIRI SISWA, BAKAT, MINAT DAN POTENSI YANG DIMILIKINYA

BAB I

PENDAHULUAN 

 

            Pendidikan merupakan faktor utama dalam membangun suatu bangsa. Melalui pendidikan suatu bangsa dapat menjadi cerdas, terampil dan berbudi pekerti luhur. Makin maju pendidikan di suatu negara, makin maju pula kehidupan bangsa di negara tersebut.. Untuk itulah pemerintah Indonesia terus menerus membenahi sistem pendidikan, sehingga melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22, 23 dan 24 Tahun 2006 mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan memiliki kurikulum tersendiri, yang dikenal dengan istilah “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 mengamanatkan bahwa struktur kurikulum SMA terdiri dari komponen kelompok mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri. Dalam peraturan tersebut dikatakan bahwa :
Pengembangan diri bukan Guru Pembimbing merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri dilaksanakan dalam bentuk kegiatan ekstra kurikuler dan pelayanan konseling; dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.

            Pengembangan diri sebenarnya bukan hal baru bagi Guru Bimbingan dan Konseling (Guru Pembimbing). Selama ini Guru Bimbingan dan Konseling sebenarnya sudah melakukan kegiatan pelayanan terhadap peserta didik, yang notabennya merupakan kegiatan pengembangan diri. Hal ini dapat dilihat pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Tahun 2004, dikatakan bahwa Bimbingan Konseling merupakan pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandiri danberkembang secara optimal

            Pada intinya, kegiatan pelayanan. Bimbingan dan Konseling harus ada pada setiap satuan pendidikan. Sesuai dengan penyempurnaan kurikulum serta tuntutan era globalisasi dituntut Guru Bimbingan dan Konseling yang profesional.

BAB II

PEMBAHASAN 

 

A. Hakikat Pelayanan Bimbingan dan Konseling

            Pelayanan Bimbingan dan Konseling merupakan usaha membantu siswa dalam mengembangkan kehidupan pribadi, sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karier. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan diri siswa, baik secara individual maupun kelompok, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan serta peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga bertujuan membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi siswa. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah dilkaksanakan dengan pola 17, yang terdiri dari: empat (4) macam bimbingan, yaitu : bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier; tujuh (7) macam layanan, yaitu : layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok; serta lima (5) kegiatan pendukung, yaitu : aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus.

            Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah dilaksanakan melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan siswa yang berkenaan dengan permasalahan ataupun kebutuhan tertentu yang dirasakannya. Sedangkan kegiatan pendukung dilaksanakan tanpa harus kontak langsung, dengan tujuan untuk mempermudah dan meningkatkan kelancaran serta keberhasilan kegiatan pelayanan.

            Pelayanan Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan oleh siswa, dari semenjak mereka memasuki sekolah di hari pertama, yaitu membantu berorientasi terhadap situasi, kondisi dan segala hal baru bahkan dirasakan asing bagi mereka. Lebih dari itu, bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam berorientasi, pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat lebih mendalam menjadi pelayanan konseling individu/kelompok, bukan hanya pelayanan orientasi. Dan, semenjak itulah pelayanan Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari seorang siswa.

            Peranan Bimbingan dan Konseling di sekolah sangat sentral, yaitu sebagai komponen yang memberikan pelayanan kepada peserta didik untuk membantunya menuju kearah kemandirian, sesuai dengan potensi yang dimiliki. Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dikelompokan pada pengembangan diri bidang akademik, non akademik, serta psikologis.

1. Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Akademik

      Guru Bimbingan dan Konseling tidak mengajar pada kelompok mata pelajaran, namun demikian bukan berarti mereka tidak memiliki peranan pada bidang akademik. Justru Guru Bimbingan dan Konseling dapat menjadi penunjang keberhasilan siswa pada bidang akademik. Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang akademik dimulai dari saat pertama peserta didik memasuki sekolah, dengan tujuan agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya pada bidang akademik.

      Pada Masa Orientasi Siswa (MOS) Guru Bimbingan dan Konseling memberikan pelayanan dalam bentuk pemberian informasi tentang kurikulum, antara lain: macam-macam mata pelajaran yang akan diikuti oleh peserta didik selama satu (1) tahun pembelajaran, persyaratan nilai yang harus dipenuhi, sarana prasarana, (perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain), struktur organisasi sekolah, personil sekolah dan sebagainya, yang dapat menunjang keberhasilan pengembangan diri siswa pada bidang akademik.

      Setelah proses pembelajaran berlangsung, pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik adalah bimbingan belajar, penempatan dan penyaluran, serta bagi siswa yang duduk di SMA kelas sepuluh (X) semester dua (2) dilakukan penjurusan. Untuk penjurusan Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan biro psikologi yang melaksanakan tes IQ ( tes kecerdasan), agar penjurusan sesuai dengan bakat, minat serta tingkat kecerdasan siswa.

      Pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik untuk siswas SMA kelas XII lebih mengarah kepada pengembangan karier, meliputi informasi berbagai macam jurusan di perguruan tinggi, persyaratan untuk memsukinyaa serta prospek masa depan dari perguruan tinggi tersebut. Disamping itu berbagai macam jabatan serta persyaratannya juga merupakan informasi penting yang diberikan oleh pelayanan Bimbingan dan Konseling bagi siswa di SMA kelas XII.

      Bagi siswa yang mengalami kesulitan pada bidang akademik (baik untuk kelas X, XI maupun XII), Guru Bimbingan dan Konseling melakukan konseling individual maupun konseling kelompok. Konseling yang dilakukan biasanya mengenai masalah belajar yang baik, cara membagi waktu, pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, cara mengatasi kesulitan belajar, masalah kehadiran siswa di kelas, merencanakan masa depan, dan sebagainya.

      Dalam menangani masalah kesulitan belajar, Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan guru bidang studi, termasuk untuk pelayanan remedial.

2. Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Non Akademik

      Disamping pada bidang akademik, pelayanan Bimbingan dan Konseling juga dilaksanakan pada bidang non akademik. Tujuan dari pelayanan ini adalah untuk mengembangkan potensi siswa pada bidang non akademik, sehingga bakat maupun minat peserta didik dapat berkembang secara optimal.

      Pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS) Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan kesiswaan menyebarkan angket minat untuk siswa baru pada bidang non akademik, khususnya untuk kegiatan ekstra kurikuler. Angket tersebut sudah disusun berdasarkan identifikasi kebutuhan siswa, dengan patokan tahun sebelumnya. Kemudian angket tersebut dianalisa serta disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan sekolah dengan menggunakan analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threats). Kegiatan serupa dilaksanakan untuk peserta didik kelas XI dan XII, dengan pertimbangan apakah mereka akan tetap mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang sama atau akan berubah/pindah ke kegiatan ekstra kurikuler yang lain.

      Pelayanan Bimbingan dan Konseling selanjutnya adalah konseling individual/kelompok bagi siswa yang memiliki masalah dengan kegiatan ekstra kurikuler yang sedang dijalaninya.

3. Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang     Psikologis

      Pemahaman aspek psikologis siswa pada institusi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa yang unik dilihat dari segi perilaku, kepribadian, sikap, minat motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, intelegensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang lain.

      Tidak ada dua individu yang sama. Perbedaan karakteristik psikologis siswa harus dipahami oleh semua guru. Namun kenyataan tidak semua guru dapat memperhatikan hal tersebut, apalagi guru mata pelajaran yang sering kali dikejar dengan target kurikulum yang harus dipenuhi.

      Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang psikologis meliputi pengembangan pribadi siswa pada bidang psikologis seperti pemahaman terhadap diri sendiri, konsep diri, minat, bakat, kemampuan, sikap, sifat dan sebagainya. Pelayanan ini bertujuan agar siswa lebih memahami dirinya, sehingga dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

B. Menuju Generasi Mandiri, Kreatif dan Inovatif

            Dalam banyak kasus, proses belajar mengajar di Indonesia cenderung menghambat kreativitas atau terkadang menghilangkan daya imajinasi siswa. Keunikan anak sebagai pribadi cenderung kurang dihargai karena pihak guru menuntut keseragaman jawaban atas persoalan yang diajukannya. Berfikir divergen, atau yang menghargai perbedaan dalam mengekspresikan pendapat terhadap suatu cara penyelesaian masalah seringkali ditutup. Kemampuan untuk mernjelajahi berbagai alternatif kurang dipupuk . Akhirnya yang berkembang adalah justru kekakuan.

            Memasuki dunia kompetisi global, sekolah idealnya harus mampu menciptakan sistem yang mengembangkan lingkungan asuh yang memacu siswa agar terbuka terus menerus terhadap perkembangan. Pendidikan yang lebih menekankan hanya kepada daya nalar harus diimbangi dengan kegiatan yang merangsang daya kreatifisme serta kecerdasan emosi. Sedini mungkin sekolah harus mampu menerapkan proses belajar yang mengembangkan nilai-nilai kemandirian, daya kreatifisme, daya inovasi, serta kerjasama.

            Proses belajar mengajar selayaknya lebih mengembangkan ranah kompetensi yang akan dibutuhkan dalam dunia nyata kompetisi. Melalui kegiatan bidang akademik, non akademik, maupun bimbingan pengembangan diri bidang psikologis, potensi siswa yang dikembangkan tidak saja hard competence (kompetensi yang terlihat, misalnya nilai akademis pelajaran), tetapi juga soft competence (kompetensi yang tidak terlihat). Pengembangan aspek nalar harus diimbangi juga dengan pengembangan kecakapan lain seperti orientasi akan pencapaian atau daya juang (Achievement orientation), kecakapan akan pencarian informasi (Information seeking), kecakapan berfikir secara konseptual (Conceptual thinking), kemampuan berfikir analitis (Analytical Thinking), Inisiatif (Initiative), kemampuan bekerjasama dengan orang lain (Teamwork) serta kemampuan memahami orang lain (Interpersonal understanding).

            Pengembangan hard competense dan Soft Competence seperti diuraikan di atas harus mampu disajikan kepada siswa melalui suatu kemasan methodologi yang menarik, menantang, variatif, tetapi secara ekonomis terjangkau untuk diterapkan.

C. Tiga Pilar Utama Pendidikan

            Sukses adalah sebuah formula, bukan fantasi, bukan tujuan, tetapi sebuah perjalanan. Untuk menjadi sukses maka dia harus mengetahui visi hidupnya, menyadari dan terus tumbuh menuju potensi maksimal, dan menaburkan benih dan terus tumbuh menuju potensi maksimal. Tiga faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan suksesnya pembelajaran siswa di sekolah adalah guru, orang tua, dan siswa.

            Ketiga pilar di atas harus memiliki pemahaman / internalisasi yang sama tentang arah dan tujuan akhir dari sistem pembelajaran. Ketika peraturan menteri tahun 2006 menggariskan bahwa tujuan dari pengembangan diri adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan dan mengkekspresikan diri sesuai dengan potensi siswa, maka pihak sekolah berkewajiban menyediakan program yang teritegrasi dan fasilitas yang pendukungnya, orang tua mencukupi dan mendukung konsekuensinya, serta siswa dengan ikhlas dan penuh kesungguhan dan tanggungjawab mengikutinya.

            Permasalahan yang paling utama dalam bimbingan dan konseling adalah kurangnya pemahaman tersebut dari pihak terkait. Peran bimbingan dan konseling sering didefinisikan terlalu sempit sebagai tempat membina siswa yang bermasalah dalam perilaku. Seorang siswa yang dipanggil untuk konseling seolah dia yang memiliki masalah baik prestasi akademis maupun kejiwaan.

            Bagi guru yang mengajar kelompok mata pelajaran atau muatan lokal yang kurang faham akan tujuan pembelajaran, aspek pencapaian akademis yang digambarkan dalam angka-angka atau nilai seolah menjadi tujuan tunggalnya. Bagi dia, tugasnya sudah selesai manakala rata rata kelas siswa sudah sesuai dengan target sekolah dan dia merasa di luar tugasnya lagi menanamkan aspek pengembangan diri siswa. Dia tidak menyadari bahwa dalam banyak kasus mungkin terjadi bahwa nilai tinggi itu dicapai bukan melulu karena peran guru tersebut, melainkan juga karena keikutsertaan siswa dalam penyelenggara bimbingan belajar. Dengan banyaknya drill soal soal latihan yang diberikan oleh bimbingan belajar secara intensif, maka siswa terbiasa menjawab soal.

            Kebermaknaan belajar juga seringkali terabaikan tanpa sadar. Contoh kasus, seorang guru merasa sudah cukup berhasil manakala siswa sudah diberi penugasan mencari artikel di internet lalu tugasnya dikumpulkan dengan tampilan yang menarik sebelum batas waktu yang ditentukan. Bentuk penugasan internet ansich seperti ini tanpa disertai sedikitpun kreatifitas guru akan menjadikan penugasan tersebut hanya berbicara tentang nilai angka yang melayang tanpa makna. Betapa tidak, siswa dengan mudah mencari artikel yang ditugaskan gurunya dengan cara berselancar (browsing) di internet menggunakan mesin pencari (Search engine). Saat artikel telah ditemukan, langsung di pindai (copy paste) ke microsoft word, lalu dicetak, dan jadilah makalah. Namun apakah siswa membacanya atau mendiskusikannya dengan teman temannya ? Sudah barang tentu tidak, karena umumnya tugas tugas internet seperti ini tidak akan ditanyakan dalam ulangan atau ujian. Pernugasan seperti ini telah membuang buang waktu, tenaga dan biaya tanpa makna pembelajaran, karena guru yang kurang kreatif cenderung akan menilai tugas siswa dari tampilan kulitnya, sehingga tugas internetnya nyaris tak lebih baik dari tugas pengumpulan kliping di masa lalu.

            Dengan tugas yang sama, Guru yang mampu memaknai tujuan akhir pembelajaran pasti akan menggunakan pendekatan lain. Dia akan membagi siswa menjadi beberapa kelompok, membagi topik yang harus dicari di internet per kelompok, dan meminta mereka mempresentasikan di depan kelompok lain tentang tugasnya itu. Dia sadar betul bahwa melalu pelajarannya dia juga bertugas mengembangkan nilai nilai kerjasama antar siswa, kemampuan berkomunikasi, berekspresi, berinteraksi, pencarian informasi, berbeda pendapat, serta daya analitis siswa didiknya. Penilaian tidak lagi didasarkan atas tampilan cover makalah, melainkan totalitas nilai usaha yang telah dia lakukan, termasuk tercermin di dalamnya penguasaan akan materi. Inilah kebermaknaan, Guru yang kreatif selalu akan bisa menemukan cara bagaimana menciptakan budaya pembelajaran sesungguhnya (the real learning culture), bagaimana mengejar kebermaknaan belajar, bagaimana mengemas materi yang diajarkannya dengan cara cara yang attraktif bagi siswanya.

            Orang tua yang memahami tujuan pembelajaran akan sepenuhnya mendukung dari belakang langkah langkah yang dilakukan sekolah dalam mengembangkan seluruh potensi anaknya. Secara sendiri ataupun melalui komite sekolah dia akan secara aktif dan dinamis memberikan masukan masukan yang konstruktif untuk perbaikan system. Dia juga akan kritis terhadap cara cara pembelajaran yang dilaksanakan asal asalan, tidak berorientasi masa depan, dan tidak tanggap terhadap perubahan lingkungan. Dia bertindak dan bersikap bijak bahwa tanggungjawab pendidikan tidaklah tertumpu hanya pada sekolah, tetapi dirinya juga memiliki andil terhadap kesuksesan dan kegagalan anaknya. Untuk itu, pengawasan yang arief dan penuh cinta terhadap anak anaknya senantiasa dia lakukan. Dia tidak selalu tampil sebagai hakim yang selalu menyalahkan anak, namun sebagai panutan dan pembimbing di luar sekolah. Dia tidak bertindak sebagai penuntut hak terhadap sekolah, melainkan sebagai partner dalam optimalisasi pengembangan diri anak.

            Bagi siswa, memahami tujuan pembelajaran berarti memaknai bahwa kepergiannya ke sekolah bukan semata mata mencari ijazah atau nilai. Jangkauannya lebih jauh dari itu, dia sadar betul bahwa dirinya sedang berperan mempersiapkan fondasi masa depannya. Fondasi yang kokoh harus dia pancangkan agar tercipta bangunan masa depan yang kokoh, yang tahan terhadap kemungkinan tantangan alam terbesar sekalipun. Rasa tanggung jawabnya yang besar mengalahkan segala keinginan jangka pendeknya yang seringkali menyesatkan. Berbekal hal tersebut, maka dia tampil menjadi sosok yang memiliki daya juang (fighting spirit) yang tinggi, berinisiatif, berfikir di luar kebiasaan (thinking out of the box), innovatif, dan disertai dengan pribadi yang menyenangkan semua pihak.

D. Peran Bimbingan dan Konseling dalam Mengembangkan Potensi Siswa

            Dari uraian di atas, nampak bahwa pengembangan diri siswa dimulai dengan merancang program untuk optimalisasi potensi ketiga pilar yakni guru, orang tua, dan siswa. Untuk itu peran guru bimbingan dan konseling menjadi sangat sentral dalam sebuah sekolah.

1. Guru BK sebagai Change Agent (Agen perubahan)

      Penulis sampaikan dua kutipan untuk menjelaskan betapa pentingnya seorang guru Bimbingan dan Konseling memahami perubahan.

ü      Nothing is permanent but change. You cannot step twice into the same river, for other waters are always flowing in. (Heraclitus). Tak ada yang permanent kecuali perubahan, kita tak bias melangkah masuk ke dalam sungai yang airnya sama karena air yang lain selalu mendesak mengalir yang sebelumnya

ü      Our real problem, then, is not our strength today; it is rather the vital
necessity of action today to ensure our strength tomorrow
. (Dwight D.
Eisenhower).Masalah kita sebenarnya bukanlah kekuatan kita pada hari ini; tetapi
kepentingan mendesak untuk melakukan sesuatu pada hari ini yang bisa
menjamin kekuatan kita esok hari

      Memahami perannya yang sentral, tugas guru bimbingan dan konseling yang harus dilakukan pertama kali adalah memahami dan memaknai tentang langgengnya proses perubahan. Dengan menyadari hal tersebut, selanjutnya dirinya diharapkan mampu menyesuaikan dengan perubahan itu, dan selanjutnya barulah dia bisa diharapkan menjadi change agent atau agen perubahan bagi yang lain.

      Seorang guru bimbingan dan konseling harus terbiasa mengidentifikasi tentang tantangan bangsa masa depan di segala bidang, selanjutnya dia analisis apa saja yang akan menjadi kesempatan dan tantangan bagi siswa nya di kemudian hari, dan terakhir dia akan tuangkan hasil analisis itu dalam program program pengembangan diri yang harus diikuti siswa untuk menghadapi tantangan tersebut.

      Dia akan senantiasa belajar dan belajar untuk mengubah dirinya sehingga kemampuan, ketrampilan, wawasan, dan kepribadiannya tumbuh dan berkembang. Perubahannya akan dia transformasikan kepada orang lain di sekelilingnya sesuai dengan peran dan fungsinya di lingkungannya.

      Sebagai agen perubahan, maka dia harus memprioritaskan untuk meletakkan landasan yang kokoh kepada guru, siswa, dan orang tua. tentang paradigma belajar. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang memadai, keberanian, dan keuletan yang ditunjang oleh kemampuan komunikasi serta kepribadian.

      Seorang guru Bimbingan dan Konseling harus memiliki program yang berkesinambungan dan variatif untuk menanamkan paradigma belajar ini dan yakin bahwa konsep tersebut dilaksanakan dalam keseharian. Saat paradigma belajar sudah difahami semua pihak, selanjutnya guru Bimbingan dan konseling harus membangun sistem yang memfasilitasi semua kegiatan sedang menuju kepada optimalisasi tercapainya tujuan pembelajaran. Guru Bimbingan dan Konseling harus mampu menciptakan standar, prosedur, buku pedoman, buku panduan, manual, format, serta formulir sebagai acuan para guru dan siswa dalam melaksanakan program. Namun demikian, standarisasi ini tetap dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa semua program sejalan dengan tujuan pembelajaran dan bukan untuk mempersulit guru atau memasung kreativitas.

2. Guru Bimbingan Konseling Sebagai Integrator

      Potensi yang tersimpan pada para guru, orang tua, dan siswa harus mampu dikemas bimbingan dan konseling menjadi sebuah program yang mengembangkan kompetensi siswa sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.

      Guru bimbingan dan konseling harus mengetahui lebih awal tentang profil siswa dan guru. Dia harus mengenali secara umum, berada pada kwadran manakah para siswanya, apakah dia termasuk type promotor, fasilitator, analytical, atau controller.

      Setelah guru bimbingan dan konseling mengidentifikasi masing masing siswa, maka kewajibannya adalah mengembangkan segala hal yang positif yang ada pada diri siswa dan meminimumkan hal-hal negatif. Melalui program yang telah dipersiapkan, guru bimbingan dan konseling harus memanfaatkan potensi guru, para orang tua, bahkan para alumni untuk dapat menggali dan mengembangkan potensi masing masing siswa sesuai kondisi psikhologisnya.

      Sebagai integrator, dia harus faham bahwa setiap siswa memiliki potensi dan bisa dikembangkan secara optimum sesuai dengan kapasitasnya. Kompetensi siswa harus difasilitasi dengan suhu, tanah, dan lingkungan yang kondusif untuk partumbuhannya.

3. Program Pengembangan Potensi Siswa

      Program yang baik idealnya dilakukan dengan memperhatikan masing-masing siswa sebagai individu yang unique atau berbeda satu sama lainnya. Dalam beberapa hal kondisi ini bisa dilaksanakan. Meskipun tak jarang juga sulit dilaksanakan dalam banyak hal mengingat kendala siswa, guru, dan kemampuan sekolah.

      Banyak program pengembangan diri yang bagus jika dilaksanakan, namun memerlukan biaya yang sangat mahal. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan dengan mempertimbangkan biaya, fasilitas, dan keahlian yang terjangkau:

  1. Perbaikan terhadap proses belajar mengajar yang menekankan pada kebermaknaan
  • Penugasan yang mengembangkan aspek pengembangan diri selain pengembangan nalar;
  • Make the students learn by themselves untuk kreativitas, cukup berikan rambunya saja;
  • Berikan tugas yang menantang dan attractif, hubungkan dengan kondisi lingkungan makro (perkembangan di masyarakat);
  • Buatkan siswa presentasi ttg penemuan, hasil wawancara dsb.
  • Buatkan majalah dinding yang menantang dan attractif;
  • Majalah sekolah yang menantang;
  • Hidupkan milis yang ilmiah.
  • Outward bound kepemimpinan yang diselenggarakan oleh alumni;
  • Penyelenggaraan seminar rutin oleh siswa tentang aktualisasi diri;
  • Penyelenggaraan pelatihan dengan melibatkan ahli sebagai nara sumber;
  • Mengikuti berbagai kompetisi.
  1. Optimalisasi Media komunikasi yang ada agar lebih Challenging
  1. Program Ekstrakurikuler

 

  1. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak
  • Kerjasama dengan instansi terkait;
  • Kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta;
  • Mencari sponsor sebagai pendukung berbagai kegiatan untuk menekan pembiayaan.

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

Dr. E. Mulyasa, M.Pd. 2008. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Dr. E. Mulyasa, M.Pd. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Suryani, Yeni. 2008. Makalah Korelasi Antara Peran BK dengan Optimalisasi Potensi Siswa untuk Menghadapi Tuntutan Perubahan Lingkungan. Jakarta.

http://www.wikipedia.com/hakekatbimbingandankonseling.html

Advertisements

Preposition and the Meaning

 

PREP. SPACE TIME DEGREE OTHER
At Point/intersect:

Meet me at the corner

Target:

Look at John, throw the stone at the wall

General area:

Meet me at the theater.

We meet at 2:00

It rains at night here

Water freezes at 0oC  

He works at keeping in shape

She’s good at dancing

About All arrund: he ran about the yard Approx.: about 1:00 Approx: about 1$

About 70 degees

Concerning: a book about mathematics
Above Higher than: above the picture (on th wall)   Above $5

Above freezing

Above average

Above suspicion

Above reproach

Against Contact: to lean aganst the wall Conflict: to work against the clock Conflict: two against four Internal: against one’s will

External:against all odds

Around State: the fence is around the house.

Action: th children run around the yard.

Approx: around 1:00 Approx: around $2

Around 4 kms

 
Before Infront of: before the house

He stood before us

Earlier than: before 1960

Before the accident

   
Below Lower than: below the surface   Below zero

Below average

 
Between At an intermediate point to two entities: between the house and the street Between 1 and 2 o’clock Between 100 and 120 kgs Between you and me
By Nearness: chair by the desk No later than: by 6 p.m Reduplication (gradual increase): little by little; inch by inch

Degree of failure: miss the target by a mile.

Miss the train by 3 minutes

Without help: do by oneself
For Goal: set out for Indonesia

Distance:  for 7 kms

Duration: for 7 years Exchange: buy for $5 Reason: Bali is famousfor its beauty

Goal/purpose: fish for trout

From A stratingpoint: we traveled fro N.Y to L.A.

Origin: man from New York

Work from 8 to 4 From 60 to 80 degree

From 5 to 7 dollars

Source: paper is made fro wood.

Cause: wet from the rain

In Enclosure: the man is in the room. In a period:  WW II ended in1945.

Future appointment: Come in 10 minutes

  Currency: pay me in dollars

Language: Say it in English

Of Name of geog. Location or institution: the city of new York

The states of Texas

The University of Indonesia

Before:  a quarter of ten Fraction, portion: one of the boys Possess/association: a friend of mine.

Source: a table made of wood.

On Contact: on the wall

Along: on the isle; I live on this street

Day, date: on Sunday; on November  tenth   Communication: on the radio; on TV;

Concerning: a book on magic; a lecture on religious

Over State of being above (with or without contact):

Carry a sweater over his shoulder; the roof over our head.

Action above: jump over the fence

Spanning time: over the week More than: over an hour

Over $ 3

Over 9 degree C

Communication: over the radio, TV
Through Penetrate: through the window; through the forest Duration: through the years   Endurance: through thick and thin
To Direction: go to the movies Until: work from 8 to 5

Before: a quarter to eleven

He is wise to that extent/He is wise to such an extent that … Accompany: dance to the music
Toward(s) In the direction of: walk toward the wall Toward morning The temperature moved steadily toward 0 degree C Toward a lasting peace
Under Below (state): be under the house

Below (action): crawl under the house 

Less than: in under  an hour Under $1

Under 20 men

Under  80 degrees

Condition: under presser
With Alongside, near: even with the wall Together: He grew wiser with the years.

He rises with the chickens.

Equal standing or ability: rank with the best; run with the fastest In regard to: pleased with the gift

Manner: spoke with ease.

Program Pengembangan dan Pengawasan BK

BAB I

PENDAHULUAN

            Bimbingan dan Konseling di sekolah adalah sebuah layanan yang diberikan oleh pihak sekolah terkait kepada siswanya guna membantu siswa untuk menuju sebuah kedewasaan, kemandirian, dan berkembang secara optimal yang meliputi perkembangan pribadi, sosial, pendidikan dan perkembangan karir. Hal ini tentu dilakukan dengan berbagai jenis layanan dan kegiatan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

            Pengertian lain menyatakan bahwa, Bimbingan dan Konseling merupakan layanan yang diberikan kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalam pribadi, sosial, belajar dan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan yang sesuai dengan norma yang berlaku. Pengertian tersebut ingin menjelaskan bahwa arah jegiatan layanan Bimbingan dan Konseling adalah untuk membantu peserta didik untuk dapat melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan mampu berkembang secara optimal.

            Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk memandirikan peserta didik dan mengembangkan potensi mereka secara optimal. Tujuan dijabarkan dan mengarah kepada keefektifan hidup sehari-hari dengan senantiasa memperhatikan potensi peserta didik. Yang kemudian secara lebih khusus tujuan tersebut dirumuskan kedalam bentuk kompetensi.

            Oleh karena itu, kegiatan bimbingan dan konseling perlu dikembangkan dengan adanya program-program yang dilaksanakan dalam bimbingan dan konseling di sekolah itu sendiri. Sekaligus, dilakukan pengawasan-pengawasan kegiatannya, agar kegiatan bimbingan konseling di sekolah dapat terus berjalan dan semakin berkembang.         

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling

Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang terencana berdasarkan pengukuran kebutuhan (need asessment) yang diwujudkan dalam bentuk program bimbingan dan konseling. Program bimbingan dan konseling di sekolah dapat disusun secara makro untuk tiga tahun, meso satu tahun dan mikro sebagai kegiatan operasional dan memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan khusus. Program menjadi landasan yang jelas untuk mengukur layanan profesional yang diberikan oleh konselor di sekolah.

            Struktur program bimbingan diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu :

  1. layanan dasar bimbingan
  2. layanan responsif
  3. layanan perencanaan individual
  4. layanan dukungan sistem.

a.  Layanan Dasar Bimbingan

Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai “proses pemberian bantuan kepada semua siswa melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal”.

Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar :

  1. memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama),
  2. mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya,
  3. mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan
  4. mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

 

Untuk mencapai tujuan tersebut, kepada siswa disajikan materi layanan yang menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu siswa dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Materi layanan dasar bimbingan dapat diambil dari berbagai sumber, seperti majalah, buku, dan koran. Materi yang diberikan, disamping masalah yang menyangkut pengembangan sosial-pribadi, dan belajar, juga materi yang dipandang utama bagi siswa SLTP/SLTA, yaitu yang menyangkut karir. Materi-materi tersebut, di antaranya :

  1. fungsi agama bagi kehidupan,
  2. pemantapan pilihan program studi,
  3. keterampilan kerja profesional,
  4. kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan,
  5. perkembangan dunia kerja,
  6. iklim kehidupan dunia kerja,
  7. cara melamar pekerjaan,
  8. kasus-kasus kriminalitas,
  9. bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan
  10. dampak pergaulan bebas.

 

Materi lainnya yang dapat diberikan kepada para siswa adalah sebagai berikut:

ü      Pengembangan self-esteem.

ü      Pengembangan motif berprestasi.

ü      Keterampilan pengambilan keputusan.

ü      Keterampilan pemecahan masalah.

ü      Keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi.

ü      Memahami keragaman lintas budaya.

ü      Perilaku yang bertanggung jawab.

b.  Layanan Responsif

Layanan responsif merupakan “pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera”.

Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.

Materi layanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan siswa. Masalah dan kebutuhan siswa berkaitan dengan keinginan untuk memahami tentang suatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya yang positif. Kebutuhan ini seperti kenginan untuk memperoleh informasi tentang bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas dan sebagainya.

Masalah siswa lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dialami atau dirasakan mengganggu kenyamanan hidupnya atau menghambat perkembangan dirinya yang positif, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Masalah siswa pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.

Masalah (gejala masalah) yang mungkin dialami siswa di antaranya :

  1. merasa cemas tentang masa depan,
  2. merasa rendah hati,
  3. berperilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkannya secara matang),
  4. membolos dari sekolah,
  5. malas belajar,
  6. kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif,
  7. kurang bisa bergaul,
  8. prestasi belajar rendah,
  9. malas beribadah,
  10. masalah pergaulan bebas (free sex),
  11. masalah tawuran,
  12. manajemen stress,
  13. dan masalah dalam keluarga.

 

Untuk memahami kebutuhan dan masalah siswa dapat ditempuh dengan cara menganalisis data siswa, baik yang bersumber dari inventori tugas-tugas perkembangan (ITP), angket siswa, wawancara, observasi, sosiometri, daftar hadir siswa, leger, psikotes dan daftar masalah siswa atau alat ungkap masalah (AUM).

c.  Layanan Perencanaan Individual

Layanan ini diartikan “proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya”.

Layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa agar :

  1. memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya,
  2. mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir,
  3. dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.

 

Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi atau materi perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan siswa untuk memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh siswa, layanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing siswa. Melalui layanan perencanaan individual, siswa dapat:

  1. Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan masyarakatnya.
  2. Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.
  3. Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
  4. Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.

 

Materi layanan perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek akademik, karir, dan sosial-pribadi. Materi pengembangan aspek (a) akademik meliputi : memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat; (b) karir meliputi : mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan (c) sosial-pribadi meliputi : pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif.

Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan profesinal; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).

Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu :

  1. pemberian layanan,
  2. dan kegiatan manajemen.

 

1) Pemberian Layanan Konsultasi/Kolaborasi

            Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor) yang meliputi:

  1. konsultasi dengan guru-guru,
  2. menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat,
  3. berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah,
  4. bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa,
  5. melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.

 

2) Kegiatan Manajemen

            Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan berikut:

  1. pengembangan program,
  2. pengembangan staf,
  3. pemanfaatan sumber daya, dan
  4. pengembangan penataan kebijakan.

 

            Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut :

  1. Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan atas landasan konseptual, hukum maupun empirik
  2. Visi da misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang mendukung visi , misi dan tujuan sekolah

 

            Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan isntitusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

            Keempat komponen dasar di atas dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. layanan dasar, program yang secara umum dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas;
  2. layanan responsif, program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang memerlukan layanan bantuan khusus;
  3. layanan perencanaan individual, program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri dan merancang masa depan; dan
  4. dukungan sistem, kebijakan yang mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah maupun eksternal

 

            Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar terkembang jejaring layanan yang optimal.

B. Mekanisme Pengawasan Program Bimbingan dan Konseling Disekolah

 

            Terkait dengan peran pengawas sekolah, pengawas dapat melakukan pembinaan dan pengawasan “apakah sekolah memiliki program bimbingan dan konseling?”. Pimpinan sekolah dan personil bimbingan (guru pembimbing/konselor) harus didorong untuk menyusun program bimbingan. Jika program sudah ada personil bimbingan dan pimpinan sekolah didorong untuk melakukan kajian apakah program sudah memfasilitasi kebutuhan peserta didik dan mendukung ketercapaian visi, misi dan tujuan sekolah. Pengawas juga mendorong pimpinan sekolah dan konselor untuk menyampaikan program pada rapat dinas sekolah sehingga semua pendidik di lingkungan sekolah mengetahui, memahami dan dapat mengembangkan jejaring dalam peran fungsinya masing-masing.

            Pengawasan program Bimbingan dan Konseling di sekolah dilakukan dengan mekanisme-mekanisme tertentu, yakni sebagai berikut:

  1. persiapan,
  2. pengiriman bahan,
  3. kegiatan pengawasan di sekolah,
  4. evaluasi dan tindak lanjut
  5. pengawasan berkesinambungan dan berkelanjutan

 

a. Pesiapan

 

      Kegiatan pengawasan pada tahap ini dilakukan oleh pengawas sekolah itu sendiri bersama dengan para personel sekolah. Kegiatan yang dilakukan adalah:

  1. Pengawas Sekolah

ü      Pengawas sekolah mempersiapkan kegiatan pengawasan tahunan dan satu semesteran yang disusunnya untuk setiap sekolah yang menjadi tanggung jawab pengawasannya.

ü      Persiapan pengawasan ini difokuskan kepada hasil kegiatan bimbingan, kemampuan guru, sumberdaya pendidikan, dan proses bimbingan.

  1. Personel Sekolah
    1. Guru

ü      Menyiapkan laporan tentang kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Menyapaikan laporan tersebut kepada kepala sekolah dan membahasnya (antara kepala sekolah dan guru pembimbing).

ü      Penyusunan dan penyampaian laporan tersebut dikoordinasikan oleh koordinator Bimbingan dan Konseling di tiap-tiap tingkatn sekolah sekolah (SD, SMP, atau SMA).

ü      Laporan tersebut dapat dipergunakan untuk laporan kepada pengawas sekolah.

  1. Kepala Sekolah

ü      Meminta guru-guru untuk menyusun laporan tentang kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Menyiapkan guru pembimbing untuk memperoleh pengawasan dari pengawas sekolah.

ü      Meminta guru-guru yang lain untuk bersedia membantu memberikan informasi tentang peranannya dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Kunjungan pengawas sekolah kesekolah menjadi tanggung jawabnya dan hendaknya dapat disampaikan kepada guru-guru yang lainnya.

b. Pengiriman Bahan-bahan Pengawasan

 

      Bahan-bahan yang menyangkut kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah beserta hasil-hasilnya merupakan materi utama dan pertama yang perlu mendapat perhatian pengawas sekolah. Untuk itu perlu dicatat hal-hal berikut:

ü      Pengawas sekolah dapat meminta kepala sekolah yang diawasinya untuk mengirimkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pengawasan sekolah.

ü      Hasil pengawasan dapat dikirimkan kepada kepala sekolah yang bersangkutan.

ü      Bahan-bahan pengawasan dipergunakan dalam kunjungan pengawas sekolah kesekolah-sekolah yang berkelanjutan.

c. Kegiatan Pengawas Sekolah di Sekolah

 

      Kunjungan pengawas sekolah merupakan kegiatan rutin yang harus dilakukan sesuai dengan program yang telah disusun. Dalam hal ini, kegiatan yang dapat dilakukan oleh seorang pengawas sekolah adalah :

ü      Menerimam laporan, baik secara tertulis maupun lisan dari guru pembimbing atau guru kelas tentang berbagai hal yang bersangkutan dengan bimbingan dan konseling di sekolah.

ü      Mengamati secara langsung:

  1. Ruangan, perlengkapan ruangan, dan perlengkapan bimbingan dan konseling.
  2. Proses perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
  3. Lingkungan dan kondisi sekolah yang mempengaruhi proses pendidikan pada umumnya serta bimbingan dan konseling pada khususnya.

 

d. Evaluasi dan Tindak Lanjut

 

      Hasil kegiatan yang telah dilakukan oleh pengawas selanjutnya dievaluasi, dianalisis, dan diberikan upaya tindak lanjut. Dalam hal ini pengawas sekolah mengevaluasi seluruh bahan yang diperoleh dari kepala sekolah yang menjadi tanggung jawabnya, baik bahan-bahan yang dikirim, maupun dari hasil pengawasan di sekolah. Hasil evaluasi tersebut kemudian di analisis dan diberi tindak lanjut yang dikirimkan kepada pihak-pihak terkait di sekolah terutama guru pembimbing, koordinator bimbingan dan konseling di sekolah, guru kelas, dan kepala sekolah.

e. Pengawasan Berkesinambungan dan Berkelanjutan

 

      kegiatan pengawasan bukan hanya sesuatu kegiatan yang hanya dilakukan sekali saja, namun merupakan kegiatan yang perlu dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Dalam hal ini, materi, hasil, dan tindak lanjut pengawasan serta saran-saran yang terdahulu menjadi bahan pertimbangan dalam kegiatan pengawasan berikutnya, dalam rangka pengawasan berkesinambungan dari waktu ke waktu.

      Secara umum mekanisme pengawasan bimbingan dan konseling di sekolah dapat di gambarkan sebagai berikut:

Pengawasan Berkesinambungan dan berkelanjutan
Evaluasi dan tahap lanjut
  • Pengawas sekolah
  • Personel sekolah
Persiapan
  • Guru Permbimbing/ guru kelas
  • Kepala Sekolah
  • Dari sekolah ke pengawas sekolah
  • Dari pengawas sekolah ke sekolah
 
Pengiriman Bahan
  • Sepengetahuan kepala sekolah
  • Kesempatan yang luas bagi pengawas sekolah
  • Berbagai kegiatan dilakukan oleh pengawas sekolah
  • Arahan, bimbingan, contoh, dan saran
  • Pertemuan kolegial
Kegiatan pengawasan di sekolah
  • Kelengkapan bahan
  • Evaluasi seluruh bahan dan keadaan yang menjadi objek pengawasan
  • Analisis hasil evaluasi
  • Tindak lanjut
  • Persepsi yang sama
  • Hasil pengawasan dan tindak lanjutnya, disampaikan kepada guru dan kepala sekolah
  • Pengawasan dari waktu ke waktu
  • Penilaian, pembinaan, dan pengembangan berkelanjutan
 

 


BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP 

 

A. Kesimpulan

            Program pengembangan bimbingan dan konseling di sekolah diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu : layanan dasar, bimbingan layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan sistem. Keempat layanan tersebut diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa disekolah yang bersangkutan. Yang disusun oleh oleh para personil bimbingan dan konseling di sekolah dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah.

            Dari semua kegiatan tersebut, kemudian diadakannya sebua pengawasan yang dilakukan dengan mekanisme-mekanisme tertentu, agar segala kegiatan yang berkenaan dengan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah dapat terus berjalan dan berkembang lebih baik.

B. PENUTUP

 

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga  penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Guna memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Bimbingan dan Konseling, Pendidikan Bahasa Inggris semester 4 tahun 2010.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi penulis dan juga pembaca. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan kreativitas penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Dalam penyusunan makalah ini tentu terdapat  kesalahan, kekurangan serta kejanggalan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna menyempurnakan kekurangan dalam makalah ini di masa mendatang.

  Metro, 2 Juni 2010

Penulis,

MISBAKHUDIN

 

DAFTAR PUSTAKA

Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Petunjuk Teknis Pengelolaan Bimbingan dan Konseling.

Prof. Dr. H. Prayitno, M.Sc. Ed. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Syahril., dan Riska Ahmad. 1987. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Padang. Penerbit Angkasa Raya.