Morpheme and Allomorph

  1. Free Morpheme

Free morpheme is morpheme that can stand alone as meaningful element in a sentence or stand alone as word. Morphemes are usually a noun, verb, adjective, and adverbs. It carries information about meaning and function Bellow is the table of morphemes example:

Example Word class Meaning
Beauty Noun A combination of qualities that delights the atheistic senses
Work Verb Do work, especially as a job or activities
Smart Adjective Having quick intelligence
Quickly Adverb Doing fast

Table: c.1. The List of Free Morpheme example

All words in the table has a meaning each other and can stand alone in the sentence or stand alone as a word without adding by something or attaching to other word. It doesn’t need other element to have a meaning. The word of work for example, it can stand alone as a verb or predicate in a sentence, without adding something or attaches to other word.

They work very well.

S      P     C      C

N     V       Adv

Work

Verb

Free Morpheme

At the example above, the work of word stand alone as predicate without adding affixes or attaches to other word, but it stand alone as the base word. It has a meaning while stand in the sentence. Then, while it stand alone as a word it still has a meaning, that is Do work, especially as a job or activities. And it can stand alone as meaningful word.

In addition, all content are free morpheme. Content word is word that has own meaning. For example, run (V), smart (Adj.), beauty (N), Fast (Adv). Those examples has it own meaning without attach to another word, but it stands alone as word.

Function word is a word that has grammatical function in a sentence. The function is to make grammatical correct in the sentence. It means that although it has no meaning if stand alone as word but it has a function in a sentence, therefore it can stand alone in a sentence without attach to other word. For example, article “a and the”, Preposition “at, in, etc.”, modal “would, could, etc.”, auxiliaries “have, has, etc” personal noun “he, she, I, you”. Those function words also called by function morpheme. It provides information about grammatical function by relating word or sentence. Example:

FcM        BM    FcM FcM     FcM

FW   inf. Affix   FW FW       FW

She stands alone in the front of house.

CW    CW                  CW        CW

FM    FM                  FM        FM

From the example above, whether content or function word can stand alone in the sentence without attach to another word. It has own meaning and has function in the sentence. Content word gives information about the meaning of the sentence and function word or function morpheme make a grammatical correct in the sentence by relating the words in the sentence. It is why content and function words are function morpheme and it is a free morpheme.

  1. Bound Morpheme

Bound morpheme is a morpheme that cannot stand alone as meaningful element in a sentence or stand alone as a word, but it should attach to other element in order to have a meaning. These morphemes usually are prefixes, suffixes, and infixes.

Bound morpheme usually changes the meaning, number or word class after it attaches to other word. See the table bellow.

Word Free Morpheme Bound Morpheme Meaning
Beautiful Beauty -ful (suffix)
Unable Able Un- (prefix) Negative
Higher High -er (suffix) More than/ comparison
Cats Cat -s (suffix) Plural
Missconduct Conduct Miss- (prefix) Wrong

See the table above, while bound morpheme (-ful, un-, -er, -s, miss-, etc.) standalone (without attach to another word), it has no meaning. In other word can be said that bound morpheme is morpheme which attach to other free morpheme or root in order to have a meaning. But, while it attach to other word for example suffix “-s” attach to “cat” become “cats”, it has meaning that is there are many cats. This bound morpheme changes the number of noun, from singular in to plural.

There are many examples of bound morpheme. All prefixes, suffixes, or infixes are bound morpheme. It cannot stand alone in the sentence or stand alone as word. Also it has no meaning if it stands alone. But it need other word, therefore it can attach to the word and make a new word, meaning, word class, or the number of word. In other word, bound morpheme will change the base word to new word, whether it is the meaning, function, word class or the number of word.

D. Allomorph

Allomorph is variant form of a morpheme but it doesn’t change the meaning. Allomorph has different in pronunciation and spelling according to their condition. It means that allomorph will have different sound, pronunciation or spelling in different condition. The condition depends on the element that it attaches to. Example:

Allomorph Root/ stem Meaning
A teacher 

An egg

An

Teacher 

egg

Countable noun 

Countable noun

Mengejar 

Mencari

Memberi

Menulis

Memangkas

Menari

Meng- 

Men-

Mem-

Men-

Mem-

Men-

Kejar 

Cari

Beri

Tulis

Pangkas

tari

Doing action 

Doing action

Doing action

Doing action

Doing action

Doing action

Incapable 

Illogical

Impossible

irregular

In- 

Il-

Im-

Ir-

Capable 

Logical

Possible

Regular

Negative 

Negative

Negative

negative

At the table of examples above, we can see that allomorph is a variant sound, of one morpheme. It has different pronunciation and spelling, but it still has same meaning. See the example bellow:

Incapable

Illogical

Impossible

“In-“, “Il-” and “Im-” at the words above are the variant sound of “In-“. Although it has different sound and spelling, it is still similar in meaning that is negative.

In conclusion, can you differ between morpheme and allomorph now?

Advertisements

Dimana Anakku?

Saat itu aku baru saja selesai bekerja lembur, tepat nya saat itu sudah hampir jam 10.00 malam. Malam ini terasa sangat dingin dan memang agak gerimis tapi untungnya aku membawa payung dan jaket saat mau berangkat tadi pagi. Ya, memang sih jarak kantor dan rumah ku tidak terlalu jauh, hanya sekitar 800 meter saja. Tapi memang tak pernah ku kira lau malam ini cuaca buruk karena tadi pagi cuacanya cerah. Benar kata istriku, malam ini benar-benar cuacanya buruk. Walau awalnya agak malu sih, berjalan sambil bawa payung di hari yang cerah. Apapun itu yang penting aku bisa pulang dan tidak menginap di kantor.

 

Semua sudah beres, jaket sudah ku pakai dan serandal pun sudah ku pakai. Aku berjalan keluar kantor dengan membawa payung di tangan kanan ku dan sepasang sepatu di tangan kiriku. Tak lupa ku hampiri bapak satpam yang ada di pos depan.

“Malem pak Misno” sapa ku pada satpam yang berumur paruh baya itu.

“Malem nak Hendi, kok baru pulang?” ia membalas

“Ia ni pak, baru selesai lembur”

“Wah.. nak Hendi ni hebat ya?” pujinya

“Wah, hebat kenapa ni pal” ku bertanya sambil merasa senang karena dipuji.

“Ya hebat, masih muda tapi kerjanya semangat banget”

“Ah masak sih pak?” tanya ku lagi sambil tersenyum kesenangan.

“yee.. nak Hendi kok malah ga pecaya gitu”

“He he he, ia deh pak percaya” kata ku sekali lagi

“Nah gitu dong nak Hendi, jadi kan saya gak sia-sia lau muji he he” dia bicara sambil tersenyum

“Ia ia pak, duh pak udah malem ni pak. Saya permisi pulang ya pak?”

“Oh iya nak Hendi, jangan pernah bosen lho sama bapak” katanya

“Tenang saja pak.. mari pak??”

“Mari mari nak hendi, hati-hati di jalan”

“Siap pak….” balas ku.

 

Bener-bener menyenangkan berbincang dengan bapak satpam yang ramah dan baik itu, sampai-sampai lupa kalau badan masih capek.

 

Saat keluar dari pintu gerbang kantor hujan jadi semakin deras. Sejenak ku menyandarkan badan ku di atas kursi sebuah halte dekat kantorku, sambil berteduh. Namun hujannya tak bertahan lama.

“Syukur lah…” kataku dalam hati.

 

Aku pun langsung berniat meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Baru saja sejenak berdiri, tiba-tiba aku melihat seorang wanita berjalan mendekat kearahku. Dia terlihat merunduk dan terlihat sedih. Sat wajah nya terkena sinar lampu jalanan aku baru menyadari kalau dia tengah menangis. Aku pun bergegas menghampirinya dan menanyakan beberapa pertanyaan.

“Ada apa mbak?” tanya ku untuk basa-basi tetapi ia tak menjawab.

“Mbak…..?” panggil ku dengan penuh tanya.

 

Wanita itu tetap diam dan tak menjawab apapun. Saat ia duduk di kursi yang ada di pojok halte aku kembali mencoba menghampirinya.

“ayo dong mba’ dijawab…”

Wanita tersebut malah semakin menangis. Dan menetapkan kepalanya di pundak ku. Aku pun menjadi agak sedikit rikuh pada awalnya, namun aku mencoba untuk menenagkan hatinya dan pelan-pelan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai ia menangis seperti ini. Saat aku tanya untuk yang kesekian kalinya dia menjawab jikalau anaknya hilang dan ia tak kunjung menemukannya.

“aku sedang mencari anak ku mas, sampai jam segini kok dia belum pulang” ucapnya

“memang anak mbak masih umur berapa” tanya ku agar terlihat peduli dengan masalahnya.

“dia masih kelas 3 SD mas, biasanya jam 5 sore dah pulang les, tapi….” pembicaraannya terputus begitu saja.

“tapi dia belum pulang ya mbak sampai jam segini?” tanya ku.

“ia mas, saya sudah hubungin sanak saudara dan temen-temennya tapi tidak ada yang tau”

“mbak yang sabar ya mbak..” ujar ku kepada ibu muda itu.

 

Setelah larut dalam pembicaraan yang panjang, ia memutuskan unutk melaporkan kasus ini ke polisi. Dan akhirnya wanita itu meminta tolong padaku untuk menemani nya berjalan pulang karena ia takut ini sudah malam. Kebetulan rumah kami searah jadi aku tidak keberatan untuk mengantarnya pulang.

 

Di tengah perjalanan pulang kami bertemu dengan kakek-kakek berbaju putih misterius. Jantung ku begitu berdebar dan buluku pun ikut merinding semua. Rasa takut pun timbul didalam hatiku. Lelaki tua itu begitu mengerikan. Tapi tidak pada wajah Sumarni, wanita yang ku antar pulang itu. Dia malah menghampirinya untuk menanyakan keberadaan anaknya.

“kakek.. kakek melihat anak yang ada difoto ini tidak kek?” tanya nya

“anakku, anakmu tidak berada jauh darimu” ujar kakek yang misterius itu

“benarkah begitu kek?” tanya marni.

“percayalah padaku anakku” ujarnya.

 

Mendengar itu hatiku menjadi sedikit lega. Tapi rasa takut masih tetap menghantui. Benar-benar merinding rasanya seluruh tubuhku. Kakek itu terasa aneh. Dia seolah-olah tau demana anak marni sebenarnya berada. Sempat terfikir oleh ku, mungkin dia yang menculik anak marni.

“ah tidak mungkin, lelaki tua ini sudah terlalu rapuh unutk menculik anak, dia sudah tidak mungkin kuat untuk melakukannya” ujarku dalam hati.

 

Laki-laki itu memang benar-benar aneh, Marni tiba-tiba merasa menjadi tenang dan begitu percaya dengan perkataan kakek tadi. Aku pun begitu bertanya-tanya siapa dia sebenarnya. Di ujung pertemuan kami, kakek itu berpesan sesuatu yang aneh.

“saat engkau berjalan membelakangiku, jangan menengok kebelakang sebelum kalian melangkah 7 langkah”

“ia ke.., tapi kenapa kek?” tanya Marni.

“ikuti saja perintahku” ujar kakek itu.

“sudahlah mbak Marni ayok kita pulang ini sudah malam” ujar ku yang sedikit ketakutan.

 

Kami pun beranjak untuk berjalan pulang. Dan kami menuruti kata-kata kakek itu. Dengan rasa penasaran kami menghitung langkah kami sampai tujuh langkah. Dan ternyata benar ketika kami menengok kebelakang kakek itu benar-benar lenyak bak di sapu ombak yang besar. Aku dan Marni begitu terheran-heran dengan semua ini.

“bagaimana bisa terjadi?” ujarku

“nggak usah heran mas” ujar Marni.

 

Mendengar ujaran marni tersebut aku jadi semakin tambah merinding dan bertanya-tanya sebetulnya siapa marni dan siapa anaknya. Melihatnya tersenyum penuh rahasia membuatku semakin bertanya-tanya dan merinding. Lalu dengan memberanikan diri aku menanyakan siapa Marni dan siapa anaknya sebenarnya.

“mbak sebenernya mbak ini siapa? Dan siapa anak mbak sebenarnya?”

“mas gak nyesel tanya begitu?” ujar marni

“nggak mbak!” ujarku dengan penuh ketakutan.

“aku adalah aku dan anakku adalah…”

“adalah siapa mbak?”tanyaku

“KAMU!!!!!!!!! HA HA HA HA HA”

 

Itulah cerita kawanku Rafi kepadaku. Hatiku begitu kaget dengan ending cerita itu. Aku mendengarkannya dengan baik eh malah aku dikerjain ternyata. Huf.. benar-benar cerita yang tidak dapat dilupakan. Coba deh anda ceritakan cerita ini pada teman anda dengan cara yang menegangkan. Pasti akan menghadirkan tawa di akhir ceritanya. Selamat mencoba.

Cantik ataukah Indah?

Pada suatu hari, sepasang kekasih yang sangat serasi tengah bercengkrama. Pasangan itu bernama Odi dan Dwi. Mereka Menempuh Jalan Cinta yang penuh dengan kebahagian. Odi adalah sesosok laki-laki yang sangat lembut dan perhatian. Dwi pun seorang wanita yang begitu anggunn dan lembut.

Suatu hari, di suatu taman bunga Dwi bertanya sesuatu pada Odi.

“apakah aku ini cantik?”

“tidak” Jawab Odi

Dwi begitu kecewa mendengar pertanyaan itu.

“hmmmm” ungkapnya dalam hati

Lalu ia coba untuk bertanya “apakah aku ini manis?”

“tidak” Jawab Odi.

Dwi pun begitu bertanya-tanya dengan jawaban Odi.

“Apakah dia tidak mencintaiku lagi, sampai-sampai dia selalu menjawab tidak” tanya nya dalam hati.

“papa” begitu Dwi memanggil Odi

“Ya sayangku” Jawab Odi

“apakah aku ini mempesona? dan apakah aku ini menarik?”

“Tidak” jawab Odi.

Dwi mulai menangis dan meneteskan air matanya di pipi. Dia berfikir jikalau Odi tak lagi mencintainya. Bahkan Odi tak sedikit pun menjawab ia, saat ia mengharapkan pujian Odi. Namun ketika itu, Odi menghapus air mata Dwi dan bertutur kata indah.

“Kamu itu indah, dunia akan mati keindahannya bila kamu tak ada, dan dunia serasa tak kembali mendapatkan sinar jika kamu tak ada, aku akan mati karena penyesalan, jiwaku akan hilang karena kehilangan cinta mu, kau adalah bagaikan mutiara yang menghiasi indah terang jalan hidupku”

Ia pun tersenyum dan bertanya apakah itu benar adanya.

“Benar begitu”

“Aku akan menjaminnya dengan seluruh hidupku”

Dwi pun tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di pundak Odi dan ia berkata jika ia benar-benar menyayangi dan mencintai Odi.