Dimana Anakku?

Saat itu aku baru saja selesai bekerja lembur, tepat nya saat itu sudah hampir jam 10.00 malam. Malam ini terasa sangat dingin dan memang agak gerimis tapi untungnya aku membawa payung dan jaket saat mau berangkat tadi pagi. Ya, memang sih jarak kantor dan rumah ku tidak terlalu jauh, hanya sekitar 800 meter saja. Tapi memang tak pernah ku kira lau malam ini cuaca buruk karena tadi pagi cuacanya cerah. Benar kata istriku, malam ini benar-benar cuacanya buruk. Walau awalnya agak malu sih, berjalan sambil bawa payung di hari yang cerah. Apapun itu yang penting aku bisa pulang dan tidak menginap di kantor.

 

Semua sudah beres, jaket sudah ku pakai dan serandal pun sudah ku pakai. Aku berjalan keluar kantor dengan membawa payung di tangan kanan ku dan sepasang sepatu di tangan kiriku. Tak lupa ku hampiri bapak satpam yang ada di pos depan.

“Malem pak Misno” sapa ku pada satpam yang berumur paruh baya itu.

“Malem nak Hendi, kok baru pulang?” ia membalas

“Ia ni pak, baru selesai lembur”

“Wah.. nak Hendi ni hebat ya?” pujinya

“Wah, hebat kenapa ni pal” ku bertanya sambil merasa senang karena dipuji.

“Ya hebat, masih muda tapi kerjanya semangat banget”

“Ah masak sih pak?” tanya ku lagi sambil tersenyum kesenangan.

“yee.. nak Hendi kok malah ga pecaya gitu”

“He he he, ia deh pak percaya” kata ku sekali lagi

“Nah gitu dong nak Hendi, jadi kan saya gak sia-sia lau muji he he” dia bicara sambil tersenyum

“Ia ia pak, duh pak udah malem ni pak. Saya permisi pulang ya pak?”

“Oh iya nak Hendi, jangan pernah bosen lho sama bapak” katanya

“Tenang saja pak.. mari pak??”

“Mari mari nak hendi, hati-hati di jalan”

“Siap pak….” balas ku.

 

Bener-bener menyenangkan berbincang dengan bapak satpam yang ramah dan baik itu, sampai-sampai lupa kalau badan masih capek.

 

Saat keluar dari pintu gerbang kantor hujan jadi semakin deras. Sejenak ku menyandarkan badan ku di atas kursi sebuah halte dekat kantorku, sambil berteduh. Namun hujannya tak bertahan lama.

“Syukur lah…” kataku dalam hati.

 

Aku pun langsung berniat meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Baru saja sejenak berdiri, tiba-tiba aku melihat seorang wanita berjalan mendekat kearahku. Dia terlihat merunduk dan terlihat sedih. Sat wajah nya terkena sinar lampu jalanan aku baru menyadari kalau dia tengah menangis. Aku pun bergegas menghampirinya dan menanyakan beberapa pertanyaan.

“Ada apa mbak?” tanya ku untuk basa-basi tetapi ia tak menjawab.

“Mbak…..?” panggil ku dengan penuh tanya.

 

Wanita itu tetap diam dan tak menjawab apapun. Saat ia duduk di kursi yang ada di pojok halte aku kembali mencoba menghampirinya.

“ayo dong mba’ dijawab…”

Wanita tersebut malah semakin menangis. Dan menetapkan kepalanya di pundak ku. Aku pun menjadi agak sedikit rikuh pada awalnya, namun aku mencoba untuk menenagkan hatinya dan pelan-pelan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai ia menangis seperti ini. Saat aku tanya untuk yang kesekian kalinya dia menjawab jikalau anaknya hilang dan ia tak kunjung menemukannya.

“aku sedang mencari anak ku mas, sampai jam segini kok dia belum pulang” ucapnya

“memang anak mbak masih umur berapa” tanya ku agar terlihat peduli dengan masalahnya.

“dia masih kelas 3 SD mas, biasanya jam 5 sore dah pulang les, tapi….” pembicaraannya terputus begitu saja.

“tapi dia belum pulang ya mbak sampai jam segini?” tanya ku.

“ia mas, saya sudah hubungin sanak saudara dan temen-temennya tapi tidak ada yang tau”

“mbak yang sabar ya mbak..” ujar ku kepada ibu muda itu.

 

Setelah larut dalam pembicaraan yang panjang, ia memutuskan unutk melaporkan kasus ini ke polisi. Dan akhirnya wanita itu meminta tolong padaku untuk menemani nya berjalan pulang karena ia takut ini sudah malam. Kebetulan rumah kami searah jadi aku tidak keberatan untuk mengantarnya pulang.

 

Di tengah perjalanan pulang kami bertemu dengan kakek-kakek berbaju putih misterius. Jantung ku begitu berdebar dan buluku pun ikut merinding semua. Rasa takut pun timbul didalam hatiku. Lelaki tua itu begitu mengerikan. Tapi tidak pada wajah Sumarni, wanita yang ku antar pulang itu. Dia malah menghampirinya untuk menanyakan keberadaan anaknya.

“kakek.. kakek melihat anak yang ada difoto ini tidak kek?” tanya nya

“anakku, anakmu tidak berada jauh darimu” ujar kakek yang misterius itu

“benarkah begitu kek?” tanya marni.

“percayalah padaku anakku” ujarnya.

 

Mendengar itu hatiku menjadi sedikit lega. Tapi rasa takut masih tetap menghantui. Benar-benar merinding rasanya seluruh tubuhku. Kakek itu terasa aneh. Dia seolah-olah tau demana anak marni sebenarnya berada. Sempat terfikir oleh ku, mungkin dia yang menculik anak marni.

“ah tidak mungkin, lelaki tua ini sudah terlalu rapuh unutk menculik anak, dia sudah tidak mungkin kuat untuk melakukannya” ujarku dalam hati.

 

Laki-laki itu memang benar-benar aneh, Marni tiba-tiba merasa menjadi tenang dan begitu percaya dengan perkataan kakek tadi. Aku pun begitu bertanya-tanya siapa dia sebenarnya. Di ujung pertemuan kami, kakek itu berpesan sesuatu yang aneh.

“saat engkau berjalan membelakangiku, jangan menengok kebelakang sebelum kalian melangkah 7 langkah”

“ia ke.., tapi kenapa kek?” tanya Marni.

“ikuti saja perintahku” ujar kakek itu.

“sudahlah mbak Marni ayok kita pulang ini sudah malam” ujar ku yang sedikit ketakutan.

 

Kami pun beranjak untuk berjalan pulang. Dan kami menuruti kata-kata kakek itu. Dengan rasa penasaran kami menghitung langkah kami sampai tujuh langkah. Dan ternyata benar ketika kami menengok kebelakang kakek itu benar-benar lenyak bak di sapu ombak yang besar. Aku dan Marni begitu terheran-heran dengan semua ini.

“bagaimana bisa terjadi?” ujarku

“nggak usah heran mas” ujar Marni.

 

Mendengar ujaran marni tersebut aku jadi semakin tambah merinding dan bertanya-tanya sebetulnya siapa marni dan siapa anaknya. Melihatnya tersenyum penuh rahasia membuatku semakin bertanya-tanya dan merinding. Lalu dengan memberanikan diri aku menanyakan siapa Marni dan siapa anaknya sebenarnya.

“mbak sebenernya mbak ini siapa? Dan siapa anak mbak sebenarnya?”

“mas gak nyesel tanya begitu?” ujar marni

“nggak mbak!” ujarku dengan penuh ketakutan.

“aku adalah aku dan anakku adalah…”

“adalah siapa mbak?”tanyaku

“KAMU!!!!!!!!! HA HA HA HA HA”

 

Itulah cerita kawanku Rafi kepadaku. Hatiku begitu kaget dengan ending cerita itu. Aku mendengarkannya dengan baik eh malah aku dikerjain ternyata. Huf.. benar-benar cerita yang tidak dapat dilupakan. Coba deh anda ceritakan cerita ini pada teman anda dengan cara yang menegangkan. Pasti akan menghadirkan tawa di akhir ceritanya. Selamat mencoba.

2 thoughts on “Dimana Anakku?

  1. Hi there, I discover that your case is rather perceptive as it highlights a good deal of accurate data. By the way, was considering whether you would adore to interchange world-wide-web links with my net portal, as I am searching to create contacts to additional spear thing and attain ground for my world wide web space. I don’t mind you laying my world wide web links at the home page, just approving this links on this particular write-up is over enough. Furthermore, would you be kind ample contact me at my world wide web space in case you are keen inside link exchange, I would extremely like that. Best wishes from me and hope to hear from you shortly!

  2. I’ve been exploring for a bit for any high quality articles or blog posts on this kind of area . Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this site. A href=”http://www.ifundacja.pl”>Fundacja Reading this info So i am happy to convey that I have a very good uncanny feeling I discovered just what I needed. I most certainly will make sure to do not forget this web site and give it a look on a constant basis.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s